Jarum
pengelihatanku memasuki seluruh pori-pori
Dalam
tubuhmu. Keindahan yang kugali sering menjelma api
Yang
menyalakan sumbu urat-urat darahku
Aku
memintal lagu sepanjang lorong rahasiamu
Untuk kunyanyikan diam-diam.
Tanganku meraba ayat-ayat
Tapi
setiap kunaiki tangga ke langit terjauh
Aku
selalu ditenggelamkan sinar bulan
Mengupas kemolekanmu dengan pisau pikiran
Adalah sia-sia. Keindahan hanya bisa kurasakan getarnya
Seperti cinta yang membakarku tiba-tiba
Aku
menggali cahaya dari kuburan-kuburan kenanganmu
Untuk kunyalakan dalam jiwa.
Dengan kaki telanjang
Kumasuki rumah batinmu yang terbuka
Di
lantai pualam aku bergulingan sepanjang malam
[Back]
Aku
tidur dalam pelukan bunga layu
Memimpikanmu melayarkan bintang-bintang
Ke
ranjangmu. Sungai-sungai
Air
mata yang mengering dalam doa-doaku
Aku
menulis semua yang dibidikkan angin
Membaca semua yang dituliskan semilirnya padaku
Bercakap dengan udara yang dingin:
Betapa cepat kuda ajal merebut semua jalanku
Lautan itu mengandung bulan
Kaulah yang memompa perut gelombangnya!
Ikan-ikan yang minum dari matamu
Burung-burung mabuk dalam kejaran pandanganmu
Kembali pada debu. Kupu-kupu
Merontokkan lembar demi lembar rambutku
[Back]
Aku
letih menjengkal kesamaranmu
Menyusuri terowongan-terowongan panjang
Waktu
ternyata sebuah gurun pasir
Yang
menelanku. Tapi kematian kutahan
Hingga tenggorokanku terbakar sunyi
Di
antara erangan dan jeritanku yang terpendam
Gunung batu hanya menyimpan kedamaianmu
Aku
letih memahami rahasiamu
Menghirup kepulan pasir dan debu
Langkahku telah menuruni jurang dan suaraku
Ditenggelamkan batu karang. Kematian masih kutahan
Tapi waktu terus membentangkan gurun
demi gurun
Dari
keluasan tak bisa kujengkal jarak lagi
Matahari hanya
mengisyaratkan keagunganmu yang jauh
[Back]
[Soneta Nusantara]
-
[Nusantara Sonnets]

Air Minum_C O L D A_ Air Minum