

085 B Juniarso Ridwan ( 1955 )
***************************************************************************************************************************
Bajuku
bercerita tentang perselingkuhan suami-istri,
Gara-gara noda lipstik pada kaos dalam; lalu erangan
Jendela
sampai terdengar ke pojok-pojok pasar. Di sini,
Rumah
tangga jadi kalut karena dililit piutang,
Lalu
radio pun menyimpan taman kota yang dipenuhi
Gelandangan
Echa,
sambil duduk mempermainkan gigi, dari tetangga
Sebelah
tercium ikan asin; orang-orang sibuk
Memasang umbul-umbul dan bendera warna-warni, rumahpun
Jadi
terasa asing. Gesekan daun cemara menerbitkan luka
Di
dalam hati, ilalang mendadak tumbuh di pelupuk mata.
Dalam
rangkulan matahari sore, kursi-kursi membeku,
Di meja
kulit kacang berserakan, bunga-bunga mengering;
Tiba-tiba aku ingin melupakan asal usulku, ibu!
[Back]
Ada di tengah hiruk pikuk lalu-lintas
Lewat jendela bus kota terpampang wajahmu beringas
Yang perlahan menyusup di lipatan kardus bekas
Di tanganmu tergenggam bangkai unggas
Akulah pewaris bangsa! Ujarmu tandas
Di antara rel
kereta api yang membelah kota
Dan lambaian jemuran kain kumal
Kau pandang matahari warna tembaga
Langit pun terbungkus jelaga mengental
Anak-anak bertelanjang dada berlarian
Membongkar waktu mencari kebebasan
Tapi di manakah letaknya keadilan?
Karena kau tetap saja kelaparan
Dan teriakanmu masih terdengar: kugauli kejahatan!
[Back]
[Soneta Nusantara]
-
[Nusantara Sonnets]

Air Minum_C O L D A_ Air Minum