

048 Leon Agusta (
1938 )
***************************************************************************************************************************
Siang dan malam tak memisah hujan. Juga sepi
Di
waktu kita tengadah ke langit, tak terkilas apa-apa
Cuma
arah dan warna hitam yang berlapis
Selebihnya waktu: di mana kita tak lagi berkata-kata
Segalanya telah kita bereskan. Tapi kenapa
Kita
merasa belum selesai, gugup dan tertekan
Sebab,
sampai di batas tak ada yang berakhir
Segalanya seperti bermula
kembali
Sedikit
saja yang dapat dikecualikan
Kita
pilih diam, karena merasa tak setaraf dengan kata
Hingga
kebuntuan impianpun terlepas
Hingga
cuaca bangkit dari cakrawala yang jauh
Bersama
bangkitnya cahaya yang terpendam
Meluputkan kita dari kegelapan dan putus asa
[Back]
Di
pantai California berkilauan warna benua
Topan turun menjelang pagi di
Monterey
Pantai dan laut berputar
menghanyutkan tanah
Tanah coklat bersimbah darah
kelahiranku
Milik kita hanya maut hitam
mengintai
Lainnya terlepas; juga
panji-panji berkibaran
Madu tumpah di pasir; mimpi
dingin mengental
Kau dan aku rebah bagai
bangkai laba-laba
Kupagut rembang, kau pahat
kenanganku
Pada bulan laut berhenti
berkaca
Dalam angin lagu pisah
menderu
Sebelum lidah jadi tikaman,
Eliza
Berikan senyummu pada
gurun-gurun kehilangan
Yang menelan bintang-bintang
dengan sepinya
[Back]
Aku ingin seperti rumput dan bunga-bunga
Tarianku tercipta dari angin dan matahari
Rinduku
diasuh embun, tanah dan malam
Dipestakan bintang-bintang di langit abadi
Kini,
dadaku lumbung lendir dan nanah
Keringatku getah amis
bercampur cuka
Suaraku getar menghilang di
batas kata
Kehormatan terasa kabur di wajahku
Bila
kuamati
Adalah
sebuah buku harian kelabu
Buat
anak-anak malang di sebuah negeri
Yang
tak kunjung bangkit, bisu untuk menjerit
Aku ingin seperti rumput dan
bunga-bunga
Di taman nenek moyangku yang
setia
[Back]
[Soneta Nusantara]
-
[Nusantara Sonnets]