

004 Sanusi Pane (1905)
******************************************************************************************************
Di mana
harga karangan sajak,
Bukanlah dalam maksud isinya,
Dalam
bentuk, kata nan rancak
Dicari
timbang dengan pilihnya.
Tanya
pertama ke luar di hati,
Setelah
sajak dibaca tamat,
Sehingga mana tersebut sakti,
Mengingat diri di dalam hikmat.
Rasa
bujangga waktu menyusun,
Kata
yang datang berduyun-duyun
Dari
dalam, bukan nan dicari
Harus
kembali dalam pembaca,
Sebagai
bayang di muka kaca,
Harus
bergoncang hati nurani
[Back]
Dalam
kebun di tanah airku
Tumbuh
sekuntum bunga teratai;
Tersembunyi kembang indah permai,
Tidak
terlihat orang yang lalu.
Akarnya
tumbuh di hati dunia,
Daun
berseri Laksmi mengarang;
Biarpun
ia diabaikan orang,
Seroja kembang gemilang mulia.
Teruslah, O Teratai Bahagia
Berseri
di kebun Indonesia,
Biar
sedikit penjaga taman.
Biarpun engkau tidak dilihat,
Kepada
Biarpun engkau tidak diminat,
Ki Hajar Dewantoro
Engkau turut menjaga Zaman
Dalam
Taj Mahal, ratu astana,
Putih
dan permai: pantun pualam
Termenung diam di tepi Janma
Di atas
makam Arjumand Begam
Yang
beradu di sisi Syah Jahan,
Pengasih, bernyanyi megah mulia
Dalam
nalam tiada berpadam,
Menerangkan cinta akan dunia.
Di sana, dalam duka nestapa,
Aku merasa seorang peminta
Di
depan gapura kasih cinta
Jiwa menjerit, dicakra duka
Akh, Kekasihku, memanggil tuan.
Kepada
Hanya
Jamna membalas seruan. Andjasmara
Aku
berdiri sebatang kara,
Tidak
berteman, tidak berkawan,
Tangan tertadah k’atas udara,
Jiwa
menjerit disayat rawan.
Hatiku
kosong, tanganku hampa,
Tidak
ada yang sudah tercapai
Aku
bermimpi di dalam tapa
Mengingat untung termenung lalai
O
Krisyna tiadakanlah kembali
Meniup
suling di tanah airku.
Biarkan
daku sekali lagi
Jatuh ke dalam jurang gulita,
Supaya
lupa, tidak bercita.
[Back]
05 Wijaya Kesuma
Di
balik gunung, jauh di sana,
Terletak taman dewata raya,
Tempat
tumbuh kesuma wijaya,
Bunga
yang indah, penawar fana.
Hanya
sedikit yang tahu jalan
Dari negeri sampai ke sana.
Lebih
sedikit lagi orangnya,
Yang
dapat mencapai gerbang taman.
Turut
suara seruling Krisyna,
Berbunyi merdu di dalam hutan,
Memanggil engkau dengan sih trisna.
Engkau
dipanggil senantiasa
Mengikuti sidang orang
pungutan:
Engkau menurut orang biasa.
[Back]
Aku
merasa tenaga baru
Memenuhi jiwa dan tubuhku;
Hatiku
rindu ke padang Kuru,
Tempat
berjuang, perang selalu.
Aku
merasa bagai Pamadi,
Setelah
mendengar sabda Guru,
Narendra Krisyna, di Ksetra Kuru:
Bernyala ke dewan dalam hati.
Tidak
ada yang dapat melintang
Pada
jalan menuju maksudku:
Menang
berjuang bagi Ratuku.
Mahkota
nanti di balik bintang
Kepada
Laksmi letakkan
d’atas kepala,
R.P. Mr.
Singgih
Sedang bernyanyi segala dewa.
[Back]
07 Kembang Melati
Aku
menyusun kembang melati
Di
bawah bintang tengah malam,
Buat
menunjukkan betapa dalam
Cinta
kasih memasuki hati.
Aku
tidur menantikan pagi
Dan
mimpi dalam bah’gia
Duduk
bersanding dengan Dia
Di atas
pelaminan dari pelangi
Aku bangun, tetapi mentari
Sudah
tinggi di cakrawala
Dan
pujaan sudah selesai
O
Jiwa, yang menanti hari,
Sudah
Hari datang bernyala,
Engkau
bermimpi, termenung lalai.
[Back]
08 Melati
Kau
datang dengan menari, tersenyum simpul,
Seperti
dewi, putih-kuning, ramping-halus,
Menunjukkan diri, seperti bunga yang bagus.
Dalam
sinar matahari, membuat timbul
Di dalam hati
berahi yang suci-permai.
Jiwa
termenung, terlena dalam samadi,
O
Melati, memandang kau seperti Pamadi,
Kebakaan kurasa, luas, tenang dan damai
Engkau tinggal sebagai bunga dalam taman
Kenang-kenangan: dipetik tidak ‘kan dapat,
Biar
warna dan wangi engkau berikan.
Engkau
seperti bintang di balik awan,
Terkadang-kadang sejurus berkilat-kilat
Tapi
jauh, ta’ ‘kan pernah tercapai tangan
Bawa
daku ke negara sana, tempat bah’gia,
Ketanah
yang subur, dipanasi kasih cinta.
Dilangiti biru yang suci, harapan cinta,
Dikelilingi pegunungan damai mulia.
Bawa
daku kebenua termenung berangan,
Ke
tanah tasik kesucian memerak silau,
Tersilang sungai kekuatan kilau kemilau,
Dibujuk
angin membisikkan kenang-kenangan
Ingin
jiwa pergi ke sana tidak terkata:
Hatiku
dibelah sengsara setiap hari,
Keluh
kesah tidak berhenti sebentar jua.
O
tanah bah’gia, bersinar emas permata,
Dalam
duka cita engkau mematahari,
Pabila
gerang tiba waktu bersua?
[Back]
10 Majapahit
Aku
memandang tersenyum arah ke bawah:
Bandung
mewajah di dalam kabut.
Jauh di
sana bermimpi Gede-Pangrango,
Seperti
pulau dalam lautan awan.
Langit
kelabu,
Alam
muram.
Dan ke
dalam hatiku,
Masuk
perlahan
Rindu dendam.
Jiwaku meratap bersama jiwa
Gembala
yang bernyanyi dalam lembah.
Ratap
melayang bersama suara
Kedalam
kemuraman
Kehilangan.
[Back]
Badan
yang kuning-muda sebagai kencana,
Berdiri
lurus di atas reta bercaya,
Dewa
Candra keluar dari istananya
Termenung menuju Barat jauh di sana.
Panji
berkibar di tangan kanan, tangan kiri
Memimpin kuda yang bernapaskan nyala;
Begitu
dewa melalui cakrawala,
Menabur-naburkan perak ke bawah sini.
Bisikan
malam bertiup seluruh bumi,
Sebagai
lagu-merawan buluh perindu,
Gemetar-beralun rasa
meninggikan sunyi.
Bumi
bermimpi dan ia mengeluh di dalam
Mimpinya, karena ingin bertambah rindu,
Karena
rindu dipeluk sang Ratu Malam
[Back]
2 Candi Mendut
Di
dalam ruang yang kelam terang
Berhala
Budha di atas takhta,
Wajahnya damai dan tenung tenang,
Di kiri
dan kanan Bodhisatwa.
Waktu
berhenti di tempat ini
Tidak
berombak, diam semata;
Azas
berlawan bersatu diri,
Alam
sunyi, kehidupan rata.
Diam
hatiku, jangan bercita,
Jangan
kau lagi mengandung rasa,
Mengharap bahagia dunia Maya
Terbang
termenung, ayuhai, jiwa,
Menuju
kebiruan angkasa,
Kedamaian Petala Nirwana.
Pada
kepalaku sudah direka,
Mahkota
bunga kekal belaka,
Aku
sudah jadi merdeka,
Sudah
mendapat bahagia baka.
Aku
melayang kelangit bintang,
Dengan
mata yang bercaya-caya,
Punah
sudah apa melintang,
Apa
yang dulu mengikat saya.
Mari
kekasih, jangan ragu
Mencari
jalan; aku mendahului,
Adinda
kini
Mari,
kekasih, turut daku
Terbang
kesana, dengan melalui,
Hati
sendiri
[Back]
14 Pagi
Pagi
telah tiba, sinar matari
Memancar dari belakang gunung,
Menerangi bumi, yang tadi dirundung
Malam,
yang sekarang sudahlah lari.
Alam
bersuka ria, gelak tersenyum,
Berseri-seri, dipeluk si raja siang.
Duka
nestapa sudah diganti riang,
Sebab
Sinar Bahagia datang mencium.
Mari, O
Jiwa, yang meratap selalu
Dalam
rumahmu, turutlah daku.
Apa guna menangisi waktu yang silam?
Mari,
bersuka ria, bercengkerema
Dengan
alam, dengan sinar bersama-sama,
Di
bawah langit yang seperti nilam.
[Back]
[Soneta Nusantara]
-
[Nusantara Sonnets]