|
******************************************************************************************
Kala Senja Senja itu, di penghujung bulan Setiba waktu di peralihan Langit menjadi semakin gelap Dan hujan lebat, goyahkan mantap Semua takut ada tsunami Was-was menunggu bencana nanti Walau dijaga Tuhan yang esa Juga leluhur yang bijaksana Tetaplah hati merasa gentar Sebab tak yakin dapat menghindar (05070405)
Hati Resah Lalu katanya: 'Yang kutakutkan Bukan awan gelap, juga bukan Hujan lebat, yang airnya tumpah Ke atas bumi, hingga melimpah Tapi pedihnya kesendirian Kala hadapi siksa lawatan (05070405)
Mata Bening Waktu di Nias, aku dikejar Belasan anak, di dekat pasar Minta difoto, beramai-ramai Senang gembira, begitu damai Beningnya mata, jernih pandangan penuh ceria, tiada beban Kala melihat pada kamera Riang tertawa, riuh bersama Ah itu saja sudah berikan Rasa bahagia yang mengharukan Aku bayangkan bila air 'bah' Melanda ngeri menerjang gagah Betapa mata bening kan muram Siratkan takut di gelap malam (05070405)
Rasa Haru Terlebih lagi bila kulihat Awan yang gelap, begitu pekat Wujud nyata dampak kemiskinan Yang dihadapi dan kusesalkan Dihidupi dengan rasa pasrah Sebab biasa jadi yang kalah Sungguh anakku lebih beruntung Hidupnya cukup, mampu kutanggung Tapi mata-mata bening itu Juga punya hak, bagai anakku (05070405)
Gempa Bumi Tengah malam di Tano Niha Juga Semeuleu di utaranya Gempa yang dahsyat mengguncang malam Di kala bumi sunyi terdiam Di kota kecil Gunung Sitoli Petaka datang remukkan hati Ratusan rumah hancur tergelar Bahkan ratusan musnah terbakar Selain rumah, juga sekolah Puluhan gedung tempat ibadah Ratusan orang menjadi korban Yang terlukapun tak terbilangkan Ribuan orang lari mengungsi Dari bencana menjauh pergi (06080405)
Rasa Cemas Aduh ada apa lagi ini? Gempa barusan saja terjadi Aceh dan Sumut ikut tergoyang Tapi di Nias yang paling malang Tertera delapan koma dua Ukuran gempa, skala richternya Hotel tua di Gunung Sitoli Rubuh menimpa para penghuni Seorang dokter, Ria namanya Lari ke bukit, dari petaka Katanya kota Gunung Sitoli Porak poranda, terlihat ngeri (06080405)
Gempa Nias Gempa pertama disusul gempa Berkali-kali datang menerpa Pastilah banyak korban meninggal Dalam prahara jumpai ajal Oh Tuhan, tolonglah tolong kami Saudara di sana, terlebih lagi! (06080405)
Rusak Berat Terhalang kini komunikasi Tak ada sarana transportasi Listrikpun padam, menambah beban Air bersihnya tak ditemukan Rumah sakit tidak berfungsi Paramedis-nya diduga mati Para pasienpun naik ke gunung Karena takut bercampur bingung Anak-anak membutuhkan susu Minta makanan, menangis pilu Rumah-rumah terbakar semua Asap mengepul di mana-mana Di depan rumah ratusan mayat Membuat hati rasa tersayat Orang-orangpun saling mencari Keluarganya yang hilang kini Banyaklah korban di reruntuhan Alat beratpun sangat dibutuhkan Di tengah itu, hujan yang deras Tercurah lebat di Pulau Nias (06080405)
Duka Cita Ria berkabar, tentang kawannya Yang dari Medan juga datangnya Tidak terlihat di saat genting Di kala hotel runtuh berkeping Setelah kurun waktu berselang Baru didapat ia yang malang Seorang dokter, nama Rosmini Sedang bertugas, dengan suami Kala tertimpa bangunan runtuh Dalam himpitan sakit mengaduh Dokter Sukarni, sang suaminya Kedua tangan hancur terluka Sebab menguak runtuhan keras Demi memberi ruang bernafas Istri terkasih mengeluh haus Minta tangannya dipegang terus Akhirnya ia yang disayangi Terpanggil pulang oleh Ilahi Padahal masih kecillah anak Kini ditinggal bersama bapak (06080405 & 011004205)
Kisah Ria Ria selamat, karena tiang Yang jatuh miring, lintang menopang Di batasnya kepala menahan Hingga tak jatuh puing runtuhan Dari kedua lantai di atas Maka dapatlah bergerak bebas Tangan pinggirkan batu-batuan Maju merangkak di 'terowongan' Entah mengapa dan bagaimana Bayangan salib terlihat mata Sempat difoto dokter Idaman Dengan kamera diabadikan (0110042005)
Gotong Royong Di tengah duka dan rasa lara Tidak semua berputus asa Walaupun banyak yang lari pergi Di tempat lain jadi pengungsi Di perantauan orang kumpulkan Bantuan untuk yang kemalangan Bahan makanan lalu diangkut Juga pakaian dibawa turut Dokter bersama para relawan Ke medan juang jadi pelayan Dari negeri tetangga galang Bala-bantuan untungnya datang Sebab negara lamban sekali Banyak bicara, kurang beraksi (06080405)
Kawan Maju Sangatlah gigih dia, sahabat Bergiat demi para kerabat Seolah Zirao, Sang Leluhur Dan tentunya Tuhan, yang mengatur Dengan berbagai cara yang ada Sesuai kehendakNya semata Bila dihubungkan dengan mimpi Serta firasat yang menghantui Takut untuk bermimpi jadinya Cemas awan gelap masih ada (06080405)
Nias Hancur Yang selamat mulai kembali Ke rumah-rumah milik pribadi Tetapi tetap masih siaga Sebab gempa susulan terasa Tengah kota sulit dilalui Reruntuhan puing menghalangi Paling parah di Gunung Sitoli Lahewa, Gawaai, hancur kini Teluk Dalam juga rusak berat Juga Sirombu, di Pantai Barat Pulau Hinako dan Pulau Asu Masyarakatnya harus dibantu Mereka panik sebab terjebak Kepungan air yang menggelegak Rusak merata tiap wilayah Dibangun ulang Nias haruslah (06080405)
Bau Mayat Sebuah kabar yang diterima Gambarkan kota dalam nestapa Tanah yang rapuh lebar terbelah. Membuat nasib semakin parah Baunya mayat di penciuman Sebab tertanam di reruntuhan Banyaklah rumah berlantai tiga Berubah jadi satu lantainya Kedua lantai bagian bawah Remuk semua ke dalam tanah. Di sana korban banyak tertimbun Tertimpa puing, tiada ampun Keluarga yang masih berharap Mengais puing, sedih menatap (06080405)
Tanpa Sinar Wakil Presiden berkata bijak Ketika datang kunjungi barak Pengungsi Nias, hari ke empat "Memang butuh alat-alat berat!'" Syukur akhirnya ada yang sadar Walau terlambat, katanya benar Warga terkubur masihlah ada Empat harian, tanggung derita Di reruntuhan. harus bersabar Di kegelapan tak lihat sinar (07090405)
Susah Tidur Aku belum juga bisa tidur Di remang malam, sulit terhibur Terbayang tangis di reruntuhan Orang mengais puing bangunan Harap temukan jasad terkasih Semoga dapat dilihat masih Kenapakah banyak yang meninggal Pribumi dan Tiong Hwa sama hal (0709042005)
Sulit Makan Makanan kini sulit dicari Punya uangpun tak ada arti Karena pasar kena bencana Terhenti dagang, jual-belinya Begitu pula di lain tempat Orang yang lapar banyak terlihat Karena lamban, tak tertangani Banyak yang pergi untuk mengungsi (06080405)
Sibuk Apa? Banyak orang berteriak sibuk Kirim bantuan malah tertumpuk Di pelabuhan kota Sibolga Antrian panjang. hambat semua Berkardus-kardus bahan makanan Beratus-ratus botol minuman Tidaklah sampai terdistribusi Sebab tak mengenal situasi (07090405)
Apa Tahu? Lalu tahukah mereka itu Rasa kuatir di dalam kalbu Nias biasa lapar dan miskin Hidup tertinggal, tanpa dijamin Tapi kini tidurpun tak nyaman Kalaupun gempa tak dihiraukan Mana ada ketenangan hati? Bila kan ada gempa tsunami Jawaban pasti mereka butuh Keterangan jelas para penyuluh Akankah Nias, tanah tercinta Hancur dilanda puncak bencana Akan datangkah badai tsunami? Siapa mampu menjawab pasti? Adakah cara sirnakan ragu Tenangkan hati yang sedang pilu? Aduh. sungguh tak terbayang Anak-anak yang hidupnya malang Ditarik ibunya bergegas pergi Tuju bukit pada dini hari Dari pendopo di waktu subuh Terengah-engah. berbasah peluh Ah, ketika aku tidur nyaman Mata mereka tak terpicingkan Kena embun di alam terbuka Dengan takut menatap samodra Rasanya aku ingin menangis Berdoa terus, tiada habis Tuhan tolonglah, tolong mereka Jangan tinggalkan, jangan dilupa (07090405)
Makin Takut Getaran gempa masih berlangsung Di Nias orang takut dan bingung terasa hingga ratusan kali Begitu banyak dalam sehari Beredar kabar tentang ancaman Yang lebih besar waktu kedepan Dalam hitungan bulan sajalah Kembali alam murka tak ramah Retakan pada lempengan bumi Timbulkan gempa, dengan tsunami Bahkan katanya Nias kan hancur Tidak berbekas di laut lebur Takut dan panik, landa semua Ingin tinggalkan Nias akhirnya Rupanya pakar berbangsa asing Dan peralatan pengukur banding Untuk memantau ke masa depan Menambah takut akan ancaman (07090405)
Lari Pergi Keluar dari Nias tercinta Mencari jalan berebut cara Lamban datangnya bantuan pusat Buat mereka laparlah sangat Getaran gempa yang tidak henti Ditambah kabar yang tidak pasti Menambah takut untuk bertahan Membuat gentar seluruh kawan Harus dicari jalan keluar Supaya orang mau mendengar Tak bisa harap pemerintahnya Sebab terbatas dana dan daya Bila ribuan tinggalkan Nias Tali kendali kan lepas bebas Keadaanpun kan makin parah Penanganannya bertambah susah Memang harus pergi kesana Tetapi sungguh berat bebannya Lagipun sangat mahal harganya Semoga Tuhan menolong Nias Dari derita semoga bebas (07090405)
Gempa Lagi Kata BMG dan juga LIPI Sebagai bahan 'tuk informasi Dimohon tenang, supaya reda Tetapi tetap awas waspada Nanti selama hampir sebulan Masih kan ada gempa susulan Namun kuatnya dan intensitas Akan menurun, akhirnya tuntas Seiring lama jalannya waktu Hingga akhirnya hilang berlalu Semakin besar gempa utama Gempa susulan akanlah lama Juga berulang sering sekali Walau dayanya melemah kini (07090405)
Mana Kapal? Pemerintah seolah tak mampu Tindakannya sungguh bikin malu Di Sibolga kapal tidak ada Pakai tongkang kami berupaya Orang asing membawa bantuan Juga genset dengan tongkang jalan Semalam tadi ribuan orang Mengungsi ke Sibolga dan Padang Tapi Sibolga gempa sekarang (07090405)
Ke Sibolga Ribuan orang Nias pergi Selamatlah yang mereka cari Di Sibolga dan kota lainnya Mereka tiba begitu saja Datang seolah tanpa tujuan Waktu malam tidur di emperan Dicari tenda untuk pengungsi Di penampungan sekarang ini (07090405)
Baik Hati Untunglah juga ada lembaga Pelayanan kepada sesama Yang mengarahkan ke penampungan Lalu nantinya yang memulangkan Para pengungsi yang dijumpai Tersebar banyak di sana sini Berbondong-bondong di pelabuhan Dan tidur sembarang di emperan Di Sibolga dan di kota Padang Yang berdatangan pagi dan petang Mereka dukung dan bantu penuh Bagian mana belum tersentuh (07090405)
Hadap Mentri Sebab trauma dan ketakutan Ke-tak-jelasan dan kelaparan Buat exodus berlangsung terus Penanganannya dirancang harus Sebab timbulkan masalah baru Yang menyedihkan dan buat haru Sudah diminta ke pemerintah Tapi tak mampu pegang amanah Telinga bagai budek dan tuli Lama tindaknya, lamban mengerti Tidak boleh ini dibiarkan Ditunggu-tunggu, tanpa jawaban Malah jaringan non-pemerintah Mau mendengar, gerak tak kalah Maka majulah Himpunan Nias Kepada mentri menuntut tegas Supaya cepat ambil tindakan Sebelum banyak terjatuh korban Semoga Tuhan mau menolong Menyentuh hati agar tak bohong (07090405)
Nanti Apa? Satu hal lagi harus dipikir Demi mencari jalan terakhir Korban yang luka dalam rawatan Di Sibolga juga kota Medan Kala mereka kembali pulih Pergi kemana harus memilih Sebab dulu dievakuasi Tinggalkan Nias untuk kembali Tapi sekarang kampungnya hancur Dan kondisinya begitu mundur Mungkinkah tinggal di penampungan Supaya hidup dapat bertahan Bila ternyata harus begitu Data yang lengkap menjadi perlu Juga di mana nantinya tinggal Hingga kembali ke tanah asal Perlu didata jumlahnya korban Mohon relawan bisa berperan (07090405)
Tanya Hati Oh Tano Niha, kampung halaman Tempat terindah, tanah idaman Apa yang kini jadi atasmu? Akankah senyum hias wajahmu? (07090405)
Ada Apa? Entah ada apa dengan Nias? Yang di wajahnya duka terlintas Semua yang aku kuatirkan Terjadi sebagai kenyataan Sungguh ini buatku takut Dan rasa hatiku jadi kalut Dari Monash, ada peneliti Yang ramalkan prahara kembali Katanya tepat di danau Toba Akan ada maha bencana Letusan volkanik yang amat dahsyat Sehingga bumi bagai dilaknat Walau geolog Medan membantah Tetaplah hati menjadi resah Oh, Apakah yang sedang terjadi? Apa kau lihat di dalam mimpi? (07090405)
Alih Jaman Mimpiku belum sampaikan sabda Yang dalam hikmat berkata-kata Apa yang nanti akan terjadi? Di masa depan yang tersembunyi? Ada yang katakan Akhir Jaman Tapi mungkin hanya Alih Jaman Harapku hanyalah yang kedua Seperti ramalan bangsa Maya Maka artinya kita di(h)ajar Supaya sungguh mau belajar Agar nantinya tabah dan tahan Kala hadapi alihnya jaman Karena perubahan yang besar Akan datanglah untuk membongkar Tatanan hidup yang sudah tua Kemanusiaan yang penuh nista Tahun dua ribu dua belas Bulannya juga ke dua belas Di hari ke dua puluh dua Harinya Ibu di Indonesia (07090405)
Harap Hati Akhir jaman atau alih jaman Sama timbulkan penderitaan Memang semua sudahlah bebal (H)ajaran keras yang masih tinggal Apapun juga sulit merubah Manusia bila sudah bertingkah Ah puncaknya tujuh tahun lagi? Bertambah buruk setiap hari? Seminggu saja sudah sakitkan Selama itu kan di'getar'kan? Manalah tahan sampai puncaknya? Mampukah kita bertahan lama? Dalam iman pasti dikuatkan Semoga saja, itu harapan (07090405)
Wajah Yesus Ada pesan di Nias terlihat Yesus berduka di puing-puing Reruntuhan yang pecah berkeping Apakah benar aku tak tahu Gemetar aku mengingat itu Dahulu di Ambon dan Irian Serta Kupang ada penampakan Setelah itu malapetaka Saling sakiti sanak-saudara (07090405)
Akan Pergi Sekarang aku berpamit diri Akan ke sana dampingi mentri Mungkin Yewangoe akan berangkat Yupiter Gulo juga berniat Titip Jakarta kota tercinta Pulau harapan kini kutiba (07090405)
Apa Benar? Pulau Harapan? Apakah benar? Sebuah tempat yang nampak samar Apa yang nanti akan kau jumpa? Di perwujudan duka nestapa Jangan-jangan hanya kesedihan Berpadukan keterbelakangan (07090405)
Tekad Diri Buat aku orang dari Nias Harapan diri tak kan kulepas Walaupun buat lainnya tidak Bagiku tetap kuhapus jarak Apalah arti Nias buatmu Yang bukan Ono Niha darahmu (07090405)
|