|
1975 ******************************************************** 01 Harum Jerami, Masa Natal, Jakarta, Kebayoran, Minggu, 22 Desember 1975 02 KehendakMu Jadi, Masa Natal, Kebayoran, Jakarta, Minggu, 22 Desember 1975 03 Juru Selamat, Masa Natal, Kebayoran, Jakarta, Minggu, 22 Desember 1975 04 Makin Dekat, Asmara Kata, Kebayoran, Jakarta, Selasa, 7 Januari 1975 05 Sendirian, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Minggu, 2 Februari 1975 06 Kejatuhan, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Minggu, 2 Februari 1975 07 Hei Iblis, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Minggu, 2 Februari 1975 08 Di Lapang Itu, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Minggu, 2 Februari 1975 09 Apa Kau Mau, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Senin, 3 Februari 1975 10 Dikehitaman, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Senin, 3 Februari 1975 11 Mama, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Minggu, 23 Februari 1975 12 Ku Kan Hampiri, Asmara Kata, Kebayoran, Jakarta, Minggu, 23 Februari 1975 13 Birahiku, Asmara Kata, Kebayoran, Jakarta, Minggu, 23 Februari 1975 14 Pertemuan, Asmara Kata, Kebayoran, Jakarta, Selasa, 4 Maret 1975 15 Kerinduan, Asmara Kata, Kebayoran, Jakarta, Selasa, 4 Maret 1975 16 Pesona, Asmara Kata, Kebayoran, Jakarta, Selasa, 4 Maret 1975 17 Aku Ini Tunggal, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Rabu, 2 April 1975 18 Inilah Nyanyian, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Senin, 16 Juni 1975 19 Waktu, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Senin, 16 Juni 1975 20 Dunia Baka, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Sabtu, 12 Juli 1975 21 Dua Pelacur, Goresan Pena, Kebayoran, Jakarta, Sabtu, 12 Juli 1975 22 Ku Akan Pergi, Asmara Kata, Kebayoran, Jakarta, Sabtu, 12 Juli 1975 23 Jatuh Cinta, Asmara Kata, Kebayoran, Jakarta, Sabtu, 12 Juli 1975 24 Hanya Berkawan, Asmara Kata, Kebayoran, Jakarta, Sabtu, 12 Juli 1975 25 Christopher, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Selasa, 19 Agustus 1975 26 Memohon Rasa, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Rabu, 20 Agustus 1975 27 Hujan Turun, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Kamis, 25 September 1975 28 Tubuh Kristus, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Jumat, 26 September 1975 29 Matahari, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Jumat, 3 Oktober 1975 30 Awal Penciptaan, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Jumat, 3 Oktober 1975 31 Yesus Tuhanku, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Rabu, 8 Oktober 1975 32 Di Suatu Siang, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Kamis, 9 Oktober 1975 33 Dalam Mimpi, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Kamis, 9 Oktober 1975 34 Perjalanan Iman, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Jumat, 10 September 1975 35 Perjalanan Salib, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Jumat, 10 September 1975 36 Saudaraku Marah, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Rabu, 15 September 1975 37 Domba Kecil, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Rabu, 15 September 1975 38 Domba Allah, Goresan Pena, Broadway, Worcestershire, Rabu, 15 September 1975
===============================================================
Harum jerami dan bau lembu Dikau di pondok bertiang empat
Gembala berdatangan Oleh kabar malaikat Sukacita: Hosana!
Tiga Majus berjalan Berseru-seru Raja agung sudah datang! Dialah itu!
Tak terbayang kesudianNya Turut hina bagai manusia
Yesusku! Kuangkat tubuhMu Menjadi milikMu Kau dan aku satu
Dengan haru bahagia Kupeluk Dikau Tuhanku
Damai di bumi dan di hati Di malam yang kudus (Masa Natal) (H1/22/12/1974)
Kau di jerami hangat palungan WajahMu merah halus Hangat nafasMu O Anak Kecil Kala gembala dan orang Majuz Datang menghadap Tuhan Penyelamat kecil berbedung lampin Raja damai Tuhan kita
Haru di gelap malam Curah air mata bahagia O Yesusku!
Penuh syukur pada Dia Allah yang baik Pada angin yang berhembus Diterangi surya gemilang Kematian sirna, juga kebutaan Lenyap bisu dan kusta Karena Engkau ya Tuhanku
Dikau dan mujizatMu Sungguh Dikau Tuhan yang baik
Di perjamuan itu kau sedih DeritaMu dekatlah sudah
Makanlah tubuhKu! Minumlah darahKu!
Dalam doa Kau bergumul Darah kudusMu tumpah di bumi Tapi tak sanggup Dikau tolak piala KehendakMu jadi Ya Bapa! (Masa Natal) (H1/22/12/1974)
Kuturut daki Golgota Kuturut haru Yesusku Kurus tubuhMu menggeliat Terkucur darahMu Kau sanggup Tapi Kau menangis Di sana di ujung akhir Kau lepaskan Kau turuti Kodrat manusia
Terbaring Dikau Di kegelapan Kau manusia Binasa tak kekal
Puji Tuhan Yesus Kau bangkit Menang atas kematian Kau berkuasa, ya Tuhanku
Yesusku Sungguh Kau Tuhan Sungguh Kau Manusia (Masa Natal) (H1/22/12/1974)
Tanganmu terbuka bebas Tapi kau katakan padaku Bebas dalam keterbatasan Kuragu tapi kuingin Dekatlah makin dekat Tanganku siap terkembang Untuk memelukmu Bukalah maka ku akan Masuk dalam dirimu Masuk dalam hidupmu Dekat makin dekat Dekatkan dirimu padaku Dekat makin dekat (Asmara Kata) (H3/07/01/1975)
Di kesepian aku berjalan Berjalan sendirian Dengan gejolak hatiku Yang tak tersalurkan Tuhan setia menemaniku Dalam wujud Roh tak terlihat Tapi tak ada kawan seiringku Yang halus dan lembut itu
Bagai Adam di hari pertama Tanpa kawan aku kini Kubertanya kepada Tuhan Kemanakah kawanku
Datanglah datang padaku Aku berjalan sendirian Kawanku seiringlah denganku
Aku terus berjalan Di kesepian sendirian Dari detak tapak kudengar Hanya ada dua kaki melangkah (Goresan Pena) (H1/02/02/1975)
Yesusku maukah Kau menolongku? Sahabatku, maukah Engkau?
Aku telah jatuh Sahabat Tolonglah angkat aku Bukankah aku dimeteraikan Dalam namaMu
Yesusku kelak akan kucium Dan kubasuh kakiMu Dengan air-mataku (Goresan Pena) (H1/02/02/1975)
Hei Iblis! Tahukah engkau Bahwa aku Anak Allah Aku dibaptis dan ditebus
Jangan datang lagi, bangsat neraka Mulutmu memang manis, tapi busuk Sungguh kau pelacur babil!
Belaianmu membuat gairah Tapi amat memuakkan Kau raja Sodom! Kau panglima Gomora! Tunggu di hari akhir Ku kan pinta pada Tuhan Sebilah pedang Ku hantam engkau Dan bala-tentaramu
Kepalamu kubelah Matamu kucungkil Isi perutmu Kutaburkan di altar Penyesalanku Hai anjing Lucifer!
Kutuntut kau kelak Kupalu kelaminmu Dengan palu marah Dan pertobatanku (Goresan Pena) (H1/02/02/1975)
Di lapang itu Di kerindangan pohon Allah Aku berdiri Dalam audiensiku Kepada Tuhan
Hatiku teduh Saat ini Di altar imanku Dan lilin kesadaran Ke-aku-anku lenyap
Kunyanyikan pujian Kegairahanku Atas Dikau ya Tuhan Kubergairah Karena sayangMu
Kuletakkan persembahan Korban bakaran Ketaklukkanku Dan kubakar dengan api Pertobatanku
Dan ketika tanganmu Di kepalaku Dan Kau berkata:
Jalanlah di jalan yang lurus, anakKu Dalam hukumKu
Aku berkata: Ya Tuhanku! (Goresan Pena) (H1/02/02/1975)
Pabila Tuhan berkata: Apa kau mau anakKu? Ku kan mohon dengan sangat Dan dengan beriba
Datanglah Tuhanku datang padaku Sucikanlah diriku Biarlah kita bersatu
Kuharap dan kutunggu Datangkah Ia dari atas sana?
Ia takkan datang dari atas sana Itu kutahu pasti Sebab tak kuundang Dia Tak pernah … belum … Tuhan berkata tapi tak kudengar Ku tak mohon, ku tak beriba-iba Kemanusiaanku terlalu sombong
Ku ingin walau ku tak dapat Apakah Tuhan mau mendahuluiku? (Goresan Pena) (H2/03/02/1975)
Di dunia ini yang merah membara Dan penuh ketak-wajaran aku hidup Kuhidup dan kujatuh di kehitaman Yang penuh tawa dan cengkeraman buruk
Aku ditarik dan nafsuku dihidupkan Oleh ketak-wajaran aku jatuh Kucoba naik, tapi kujatuh lagi Apa harus kubuat?
Iblis kuat memegangku! Amat kuat! Kuhantam mereka, iblis-iblis itu Tapi tanganku lemah Bentengku pecah sudah Tuhanku!
Dunia ini merah membara Kalut dan serba egois Kacau! (Goresan Pena) (H2/03/02/1975)
Mama Masih kuingat Kala kau Mengecup pipiku Memelukku sayang
Dan aku berjalan Memegangi rokmu Merengek Sebab panas matahari
Pabila malam tiba Kau bercerita Kau berdoa Untukku
Aku mengantuk Kau selimuti aku Kau kecup pipiku Dan aku bermimpi Engkau malaikat yang baik! (Goresan Pena) (H1/23/02/1975)
Pabila kulalui jalanku Kuingin kawan searah dan sehati
Dan di jalan itu di siang terang Kau kulihat lalu kusuka
Kuingin hampiri dikau Memegang tanganmu Dan membuaimu di dada
Ku kan hampiri dikau Dengan keterus-terangan Lalu kau ambil keputusanmu (Asmara Kata ) (H1/23/02/1975)
Kuhampiri Pembaringanmu Yang kehijauan Oleh rumput Oleh kesegaran
Tanahmu coklat Liat dan merangsang Pohon-pohon kayuan Bagai jari-jari anak dara
Dengan bernafsu Kupeluk engkau Kuciumi gunung-gunungmu
Kulahap sungai-sungai Dan danau-danau
O Kejelitaan alam Gapaianmu Kuraih mesra (Asmara Kata) (H1/23/02/1975)
Di sekejap itu kutampak dikau Dan kutertarik … hatiku akan dirimu Kuingin hampiri dikau untuk memeluk Dalam buaian nyanyian alam Kehalusanmu … kesegaranmu Rampas hatiku dan aku terbuai Oleh keceriaan harapan Bibirmu merah dan menantang Lekukannya bagai lembah subur Kuingin raba dan cium bibirmu O Gadisku!
Tapi apa kan kau kata Pabila daku datang padamu Bagai orang tak tahu malu! (Asmara Kata) (H3/04/03/1975)
Gadis! Kusudah lihat dikau Walau sekejap kau tampak Kutatap dan sesuatu, ya sesuatu Terasa merasuk di dalam hati
Matamu bagai bintang pelita Wajahmu putih kemerahan Dengan tatapan penuh selidik Engkau tampak bagai mawar segar Ah gadisku! Engkau kesegaran alam Kesukaan yang penuh ceria Kupuja dikau dengan hatiku
Mengapa sekejap kau berlalu Ah gadis sungguh ku tak puas Sekejap itu mengapa sekejap Kutatap dikau dan berbisik
Gadis! Mendekatlah! (Asmara Kata) (H3/04/03/1975)
Kita dibatasi ketidak-kenalan Dan antara ketidak-tahuan Tapi kala ku melihatmu Matamu begitu menantang Tubuhmu penuh kesegaran Dan keindahan alami Pipimu merah segar menarik Ah remaja … kunikmati Sekejap kehadiranmu Aku terpesona olehmu Desir alami menghanyutkanku Kuraih walau tak kudapati Di sekejap itu kunikmati Bintang keremajaanmu Kecemerlangan manusiawi Tapi kau berlalu dan hilang Musnahkah? Kemanakah? Ah gadis! Kuingat terus Saat sekejap itu (Asmara Kata) (H3/04/03/1975)
Aku ini tunggal Di antara karang julang Aku ini jantan Biadab … Telanjang Makan kambing hutan Minum air telaga Aku ini biadab!
Aku tuan rumah Di pesta malam remaja Anggur Musik biadab Ah … aku tidak biadab!
Aku ini barbar Yang haus perang Turut menari Di api unggun Biadab Minum anggur dan Mabuk
Aku ini pria Yang terkadang turut Di kumpulan dara-dara Yang tertawa gembira Dan tersenyum Menggumam tidak jelas
Aku ini padri Yang dengan wajah suci Di antara asap dupa Di kuil … di sinar matahari Yang menyembah Tuhan dan malaikat
Membungkuk Menyembah Aku tidak biadab Aku ini aku! (Goresan Pena) (H4/02/04/1975)
Ini adalah nyanyian Dari kejadian Kesukaan, kedukaan Kehidupan Dan keajaiban
Garuda yang mengalahkan Merusak binasakan Penumpah darah Di antara tangis dan hentak gigi Lalu kematian
Percintaan Di bunga-bungaan |