BAGUS SRIMAN CARI ILMU 

 

***************************************************************************************************************************

   

   

   

   

   

       

PEMBUKAAN

PERJALANAN – BAGIAN I

HEMBAN SAWUNG – BAGIAN II  

KYAI PANCINGTAWA – BAGIAN III

NYAI RATU MAS SEKAR – BAGIAN IV

KI SONTOYUDO – BAGIAN V 

KI TANDAYUDA – BAGIAN VI 

PANEMBAHAN ANYAKRAWATI – BAGIAN VII 

KEMBALI – BAGIAN VIII 

AJARAN PUJANGGA KYAI  RANGGA WARSITA 

REFERENSI – SUMBER PUSTAKA

Syair Tripama – Karangan Pangeran Mangkubumi IV

Lima belas tabiat Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit – Seperti yang

Ditulis oleh pujangga Mpu Prapanca     

AJARAN SRI RAMA

BARATA BERTAKHTA SEBAGAI RAJA AYODYANEGARA

MELAKSANAKAN AMANAT DAN AJARAN SANG BIJAKSANA

RAMAWIJAYA

WEJANGAN SRI RAMA KEPADA WIBISANA

Sebelas azas kepemimpinan – dirumuskan dalam seminar TNI/AD pada

Tahun 1966

AJARAN RADEN MAS SOSRO KARTONO

PRASASTI MATARAM

PETUNJUK AKSARA JAWA – DARI SERAT WIRID

 

***************************************************************************************************************************

                                                                                                       

PEMBUKAAN

Nusantara ada pada mulanya

     dikitari debur ombak segara

Disana Mahameru menjulang perkasa

     memangku bumi menjangkau mega

Disana Matahari bersinar jaya

     semarakkan kayangan dunia

Lalu adalah manusia dan desa

   Dan berkembangnya budaya

Petani, pedagang dan para nelayan

   bersama majukan niaga bangsa

Nusantara ada, Nusan jaya

disanalah Kebijaksanaan dan

Pengetahuan yang lahir dan yang datang

berkembang dan dipelajari

dari masa ke masa.

[Back]

  

 

 

PERJALANAN — RAGIAN I

 

1. Bagus Sriman adalah pencari ilmu, yang dahaga akan kebenaran. Ia ingin berguru untuk mengerti, apa yang menjadi landasan pandangan dan tujuan hidup.

2. Telah diseberanginya segara dan ditimbanya pengetahuan serta ditanyanya orang-orang berhikmah. Kakek dan Neneknya, orang tuanya, para pendeta dan guru serta kawan maupun kerabatnya. Masing-masing mengajar buah pikiran mereka dan turut membentuk pribadinya.

3. Telah  dibacanya  kitab  sejarah  dan  tulisan  tangan  orang-orang pandai, menelusuri persamaan maupun perbedaan pendapat mereka. Hingga iapun terpesona kagum, akan tingginya akal budi manusia.

4. Lain pada suatu ketika, didengarnya tentang sebuah tempat berguru. Letaknya di lereng gunung Semeru, di desa Karang Tumaritis, dan dikenal dengan nama Padepokan Pamong Bhuwana. 

5. Menurut sejarahnya, padepokan itu didirikan oleh Ki Badranaya 381 tahun yang lalu, untuk melestarikan ajaran para leluhur.

Kemudian setelah 13 tahun berdiri Padepokan Pamong Bhuwana mencapai puncak kemegahannya sebagai tempat berguru, di bawah pimpinan Janggan Asmara.

Akan tetapi perang dan perubahan jaman telah membuat nama padepokan itu tidak terdengar lagi pada masa kini.

6. Maka mohon dirilah Bagus Sriman pada sekeluarga dan kerabatnya, untuk pergi kearah Gunung Semeru, kearah matahari terbit. Besar keinginannya untuk menerima pengajaran dari Panembahan Anyakrawati, Kyi Pacingtowo, Ki Santayuda; yaitu para guru agung Pamong Bhuwana.

7. Di perjalanannya dilaluinya bumi Parahiyangan, tanah asal orang-orang Sunda. Disinilah dahulu berdiri megah kerajaan-kerajaan Galuh dan Pajajaran, yang diperintah oleh para turunan Prabu Maharaja yang gugur di lapangan Bubat di Majapahit. Tiga rajanya yang paling ternama dan sering disebut dengan nama Siliwangi adalah Pertama Rahiyang Niskala Wastu Kencana, yang mangkat di Nusa Larang. Putranya. Rahiyang. Dewa Niskala, yang mangkat di Guna Tiga, dan cucu Rahiyang Niskala. Niskala Wastu Kencana, yaitu Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pejajaran. Adapun jaman pemerintahan para Prabu Siliwangi di tanah Sunda dikenang terus dalam pantun maupun ceritera rakyat, sebagai masa yang penuh keadilan dan kemakmuran. 

8. Setelah menjelajah tanah Parahiyangan tibalah Bagus Sriman di Cireban, palabuhan pantai utara, yang sejak jaman bahari telah dikenal sebagai pusat perniagaan. Di sana dibaringkan wali terkenal, Syarif Hidayattullah, Gelar Sunan Gunung Jati; yang adalah Putra Nyai Ajeng Rara Santang, Seorang putri Prabu Siliwangi dari Nyi Subang Karancang, istrinya yang kesebelas. Tanpa bermalam Bagus Sriman meneruskan Perjalanannya memasuki daerah Jawa Tengah.

9. Dilaluinya daerah-daerah Tegal, Batang dan Pekalongan, yang pada jaman dahulu kala dikenal Sebagai wilayah kerajaan Pasir dan diperintah oleh para turunan Prabu Siliwangi. Di sanalah tempat kelahiran Ratu Kulon, Permaisuri Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma. Di sana pula dimakamkan Sunan Amangkurat kesatu, yang dalam keadaan sakit melarikan diri karena Istana Plered diserang oleh pasukan Trunajaya. Semakin sadarlah Bagus Sriman, bahwa di mana-mana di Jawadwipa masa silam terus dikenal oleh orang-orang yang hidup di masa kini, sebagai bagian kebidupan manusia seluruhnya.

10. Setibanya di pelabuhan Asem Arang. Bagus Sriman meneruskan perjalanannya menuju kearah selatan, memasuki pedalaman pulau Jawa. Dilaluinya bukit-bukit Ambarawa dan sempat pula ia berhenti di tepi Rawa Pening untuk melihat mengagumi keindahan telaga itu.

Lalu Bagus Sriman menuju kekota Wonosobo dan seterusnya mengunjungi dataran tinggi Dieng. Disaksikannya di sana sekumpulan candi-candi tua, yang diberi nama menurut tokoh Pandawa Lima dan merupakan bangunan keagamaan tertua di Jawa setelah masuknya agama Hindu. Dilihatnya pula telaga biru, yang menurut orang pernah merupakan tempat Dewi Rinjani berenang-renang; serta gua Semar tempat orang bertapa.

11. Dari gunung Dieng Bagus Sriman ke candi Borobudur, tempat pemujaan umat Buddha, yang didirikan oleh seorang turunan Cailendra dalam abad kesembilan. Dari puncak candi, tepat di bawah Stupa Utama lambang Nirwana ia dapat melihat di kejauhan. gunung Merapi dengan kepulan asapnya dan gunung Merbabu yang sepi tidak berapi. Kedua gunung itu bagaikan pengawal kembar bagi wilayah Mataram yang terletak di sebelah selatannya. Kearah Mataram itulah Bagus Sriman meneruskan perjalanannya.

12. Yogyakarta berada di ambang senja ketika Bagus Sriman memasuki kota itu. Udaranya terasa lebih panas dari pada di pegunungan, karena terletak di dataran rendah. Kota itu dahulu dipilih oleh Pangeran Mangkubumi untuk menjadi pusat pemerintahannya, dan diperintah oleh para keturunannya yang kesemuanya menyandang gelar Hamengkubuwono. Di penginapan Bagus Sriman segera terlelap tidur karena lelahnya.

13. Hari masih pagi ketika Bagus Sriman keluar dari kamarnya menuju ke Mrican, disana ia menyambangi makam para leluhurnya dan menaburkan bunga-bungaan sebagai penghargaan akan jasa-jasa mereka. Lalu ia pergi ke Kutagede, yang pernah menjadi ibu kota Mataram dan dahulu didirikan oleh Ki Gede Pemanahan; putranya, Panembahan Senopati dan para pengikut mereka dari desa Sela. Di sanalah mereka dibaringkan dalam peristirahatan mereka. Putra Panembahan Senopati, yaitu Sunan Hadi Prabu Anyakrawati gelar Panembahan Seda Krapyak yang dimakamkan di tempat yang sama; sedangkan Sultan Agung turunan mereka dan raja Mataram yang paling ternama, dimakamkan di Imogiri. Akan tetapi pada hari itu Bagus Sriman tidak memiliki cukup waktu untuk ke Imogiri. 

14. Hari telah agak senja ketika Bagus Sriman kembali ke penginapan. Seusai makan malam segera ia menuju ke kamar, dan tidur selekasnya. Karena keesokan harinya akan rnenempuh perjalanan jauh.

15. Bagus Sriman meninggalkan Yogyakarta ketika hari masih agak gelap. Ia menuju ke arah timur, melewati candi Prambanan, yang didirikan pada jaman Mataram Hindu, untuk memuliakan Batara Siwa. Di dekat Klaten Bagus Sriman berhenti untuk mengunjungi Sendang Dagan dan makam Panembahan Rama, atau Raden Kajoran Ambalik, salah seorang tokoh pemberontakan Trunajaya. Kemudian diteruskannya perjalanan hingga memasuki kota Surakarta tempat Susuhunan Pakubuwana memerintah.

Kota yang terkenal karena keindahan batiknya da kecantikan gadis-gadisnya itu.

16. Dari Surakarta Bagus Sriman menuju ke selatan kearah Wanagiri untuk mengunjungi makam Dutasuwara yang terletak di sebuah bukit gersang di Selagiri.

Setelah itu kembali Bagus Sriman melanjutkan perjalanan ke timur. Dilaluinya desa-desa dan kota-kota kecil serta hutan-hutan kayu. Dilintasinya pula puluhan kali dan dilihatnya para petani bekerja di sawah ladang mereka. Matahari berganti rembulan, terang menjadi gelap dan malampun menjadi siang kembali ketika Bagus Sriman tiba di pelabuhan Surabaya terik matahari terasa menyengat ketika ia memasuki gedung penginapan. 

17. Keesokan harinya Bagus Sriman mengunjungi arca Jaka Dolog, yang menggambarkan Sri Kertanagara sebagai Buddha-Aksobhya, sebelum menuju ke Barat Daya kearah gunung Semeru. Dalam perjalanannya ia berhenti di daerah Trawulan, di dekat kota Majawarna, di mana dahulu berdiri kerajaan Majapahit; sebuah kerajaan yang pernah mengumandangkan cita-cita “Nusantara bersatu” dan di bawah pimpinan maha patih Gajah Mada berhasil memperjuangkan prasetya mulia itu.

18. Di situ dilihatnya candi-candi. bangunan-bangunan serta petilasan-petilasan yang telah ratusan tahun umurnya.

Terlintas dalam pikiran Bagus Sriman beberapa nama yang pernah memerintah Majapahit. Nanarya Sanggramawijaya, raja pertama yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana; Rajapatni, permaisurinya, yang dimasa tuanya menjadi Wikuni Buddha; Sri Wikramawardbani atau Bhra Hyang Wisesa, pemenang perang Paregreg; Prabu Brawijaya Kertabumi, yang kehancurannya dalam perang perebutan takhta mahkota diperingati dengan Candra Sengkala “Sirna ilang Kertaning bhumi”.

19. Dalam kunjungannya itu Bagus Sriman bertemu dengan seorang ahli sejarah yang menerangkan kepadanya arti dari gelar raja Majapahit pertama. Demikian penjelasanniya itu :

“Kerta              - Sri baginda mambebaskan jawa dwipa dari kekacauan dan            

                             memberikan  kesejahteraan rakyat.

Rajasa              - Sri baginda merubah suasana gelap menjadi terang.

Jaya                  - Sri baginda memiliki senjata untuk mengalahkan musuh-nusuh

Wardhana       - Sri baginda menghidupkan agama dan melipatgandakan hasil

                             bumi rakyat. 

Terpesona Bagus Sriman mendengarkan, sepintas terlintas dalam benaknya: “Benarkah raja itu semegah gelarnya, dalam memerintah maupun dalam menunjukkan budinya?” 

20. Dari Trawulan Bagus Sriman lalu mengunjungi desa Ngara, di mana pada abad yang lalu seseorang bernama Coolen memperkenalkan agama Kristus dalam wadah kebudayaan jawa, dan mendirikan jemaat yang tertua di Jawa Timur. Dikunjunginya pula desa Majawarna, yang dahulu merupakan pusat gereja Kristen Jawi Wetan, di bawah pimpinan Kyai Paulus Tosari dan pendeta Jellesma. 

21. Dalam perjalanan itu Bagus Sriman melihat pula puluhan langgar kecil dan mesjid agung peribadatan saudara-saudaranya yang beragama Islam. Sewaktu senja hampir tiba didengarnya suara Azan memuliakan Allah dan rasulnya, memanggil kaum muslimin untuk bershalat magrib.

Teringat Bagus Sriman akan cerita babad tantang Sunan Ngampeldenta yang tertua di antara para wali, dan pertama kali manyebarkan agama Islam di Jawa Timur.

22. Sesungguhnya Jawadwipa adalah tanah yang subur bagi bermacam-macam agama dan kepercayaan, yang hidup bersama dalam ketentraman dan kesejahteraan.

Di sana kebenaran seakan-akan terletak di sebuah pura, di atas sebuah bukit kecil, dengan macam-macam tangga yang berbeda akan tetapi menuju kesatu tujuan juga.

23. Pada akhir perjalanannya, tibalah Bagus Sriman di kaki gunung Semeru. Waktu itu pagi hari dan gunung kramat tersebut tampak keemasan oleh sinar sang surya. Bagus Sriman mendapat tumpangan dalam gerobag paman tani, yang sedang menuju ke desa Karang Tumaritis. Desa itu letaknya agak di ketinggian, di lereng gunung.

Semakin jauh mereka menempuh perjalanan, semakin terasa dingin hawa pegunungan, Walaupun matahari bersinar terang. Bagus Sriman bercakap-cakap dengan paman tani, yang bernama Ranutika, yang menceritakan padanya mengenai kebun sayur dan tentang kehidupan di desa.

24. Belum lewat tengah hari mereka telah sampai di pelataran padepokan Pamong Bhuwana. Bagus Sriman melihat ke kanan dan ke kiri, menyerap suasana tenang disekitar padepokan. Tampak sebuah bangunan agak besar, terbuat sebagian dari batu dan sebagian dari kayu, dikelilingi pondok-pondok yang terbuat dari kayu. Rupanya bangunan besar itu, yang dikenal dengan nama Sasana Agung Gitabhuwana, adalah tempat para warga padepokan belajar dan beribadah. Di belakang gunung itu Bagus Sriman melihat pula sebuah bangunan yang lebih kecil, yang baru kemudian diketahuinya bernama Sasana Dirgahayu budaya.

25. Seorang pemuda sebaya dengannya datang mendekati dan memperkenalkan diri dengan nama Tunggul. Kepadanya Bagus Sriman menjelaskan maksud kedatangannya.

Tunggul pun memintanya menunggu sebentar di pendapa, sementara ia masuk ke ruang dalam. Ketika keluar ia disertai seseorang yang sudah agak sepuh, yang ternyata bernama Kyai Pacingtawa. Bagus Sriman dipersilahkan duduk, dan merekapun mulai bercakap-cakap. Kyai Pacingtawa mengatakan menerima baik permintaan Bagus Sriman untuk diangkat menjadi siswa serta menetap di padepokan selama beberapa minggu.

26. Lalu Bagus Sriman diperkenalkan kepada cantrik Hemban Sawung, yang membawanya berkeliling padepokan. Kepadanya ditunjukkan asrama tempat para cantrik tidur. Dibawa pula ia melihat sendang tempat mandi dan kebun sayur tempat para cantrik bekerja. Kemudian ia melihat-lihat peralatan gamelan dan seperangkat wayang kulit yang indah buatannya di Sasana Dirgahayu Budaya, sambil Bagus Sriman berkenalan dengan cantrik-cantrik lainnya. Suasana terasa damai dan manyenangkan di padepokan itu;

Bagus Sriman merasa bahwa ia akan kerasan untuk tinggal di tempat itu selama beberapa minggu.

[Back]

 

 

HEMBAN SAWUNG — BAGIAN I

 

1. Malam pertama di Padepokan tiba bagi Bagus Sriman, yang sedang duduk-duduk di asrama menunggu rasa mengantuk. Dilihatnya Hemban Sawung berjalan ke arahnya, sebabis menalu kentongan di pendapa Sasana Agung. “Belum mengantuk adi?” tanya cantrik kesayangan guru agung itu, sambil duduk di sebelah Bagus Sriman, yang menjawabnya: “Wah belum kakang, mataku masih dibuat terbuka oleh pikiran-pikiran di kepala ini”. Hemban Sawung tersenyum mendengarkan.

2. Kemudian Bagus Sriman bertanya: “Kakang, mengapakah engkau tertarik untuk tinggal di desa dan tidak ingin merantau ke kota seperti banyak dilakukan pemuda masa kini?” Hemban Sawung merenung sebelum menjawab, lalu katanya: “Sebetulnya adi, kemanapun orang pergi untuk menetap adalah merupakan panggilan hatinya sendiri. Ada beberapa orang yang dilahirkan dan pernah pula berguru di padepokan Pamang Bhuwana yang merasa terpanggil untuk turun gunung dan mencari pengalaman di kota-kota, seperti adi ketahui di padepokan ini juga diajarkan ilmu niaga dan tata buku, pertukangan dan pertanian, bahasa dan tata pemerintahan negri kita, yang walaupun tidak semaju seperti di kota tetapi cukup mempersiapkan para siswa menghadapi perkembangan jaman. Demikian adi, panggilan hati ini; sesungguhnya yang terpenting adalah pengamalan ilmu, bukan dimana diamalkannya.”

3. “Aku sendiri merasa terpanggil untuk menetap di Karang Tumaritis, bekerja melayani para guru agung di padepokan ini dan pada waktunya hidup berkeluarga serta meneruskan pengabdian Pamong Bhuwana dalam memelihara ajaran orang tua.

Tapi adi, itu semua kalau diijinkan Gusti”.

4. “Kakang, tolong jelaskan kepadaku mengenai pandangan hidup orang di desa, yang membuat kakang sebegitu cintanya pada daerah ini”.

Demikian pinta Bagus Sriman.

5. Hemban Sawung-pun menjawab: “ Adi, orang di desa itu lebih prasaja atau sederhana dari pada yang tinggal di kota. Mereka hidup bahagia dengan hubungan kekeluargaan yang erat. Maka pepatah-pepatah dari desa itu banyak mengemukakan pandangan kekeluargaan itu.”

6. “Adapun kata yang menjelaskan ini secara lengkap adalah “Gotong royong”, yang artinya adalah “Tolong menolong”, semua memikul yang berat dan semua pula menjinjing yang ringan; seperti juga diterangkan dalam pepatah “Ana setitik didum setitik, ana akeh didum akeh”; artinya, bagi kami sedikit atau banyaknya rejeki, semua harus menikmati dan semua harus berbahagia. Hal ini tidak jauh pula dari bunyi pepatah “mangan ora mangan nek kumpul” artinya adalah mengutamakan kebersamaan, dalam keadaan berkecukupan maupun kekurangan.

7. “Maka salah satu contoh dan pada gotong royong dapat dilihat dalam sewaktu rakyat di desa menghadapi masalah. Seperti bagaimana memasarkan hasil panen, atau apabila sawah ladang kekurangan air, kekurangan bibit maupun terkena hama. Penduduk desa akan merapatkan hal-hal ini dalam acara “Rembugdesa”.

Semua yang hadir berhak menyampaikan pendapat, dengan menghormati kebijaksanaan Kilurah, Kamituwa dan para sepuh lainnya. Lalu keputusan pun akan diambil bersama, dan setelah itu dilaksanakan bersama secara serentak dengan semboyan “Rawe-rawe rantas malang-malang putung”. Karena itulah, adi, cara pemerintahan di desa itu lebih teguh bertahan dari pada pemerintahan raja maupun pemerintahan dewan mentri manapun.

8. “Orang-orang di desa, adi, biasanya tidak sampai hati melihat penderitaan kerabad mau pun tetangganya; seperti yang terungkapkan dalam kata-kata “mesakake, wong ora duwe”.

Mereka juga senang menanggap, seperti nanggap wayang, ngruwat, bancakan, tedak siti, pesta sunat dan lain-lainnya. Apabila orang sedesanya merasa senang melihat keramaian yang diselenggarakan, senang pula orang yang menanggap itu”. 

9. Lalu bertanyalah Bagus Sriman lagi: “Kakang Hemban Sawung, memang aku perhatikan betullah kata-kata kakang mengenai orang-orang di desa itu. Sekarang beritahukanlah aku kakang. Apakah yang menjadi pegangan hidup mu?”.

10. “Bagus Sriman”, jawab Hemban Sawung “Sebetulnya sederhana saja pegangan hidupku itu. Namanya adalah pandangan “mikul duwur mendem jero” yang artinya : memikul tinggi cita-cita, ajaran serta perjuangan orang tua, dan memendam dalam kesalahan maupun keburukan mereka.” Orang tua, atau orang yang harus dituakan adalah pribadi yang terdekat dengan kita.

Mereka itulah yang pertama kaji mengajar dan senantiasa memberkati kita dengan doa restu mereka. Sesungguhnyalah seperti kasih Hyang Gusti pada manusia, demikianlah kasih orang tua pada anak-anaknya.”

11. Sementara mereka bercakap-cakap, malampun semakin larut pula. Maka beranjaklah Hemban Sawung dan Bagus Sriman dari tempat mereka duduk, dan masuk ke ruang dalam menuju tikar tidur masing-masing. 

2.1. Banyaklah Bagus Sriman belajar dari Hemban Sawung, Cantrik yang bijaksana itu. Karena ia mengajar tidak sekedar dengan kata-kata, akan tetapi dengan perilaku dan budi pekertinya yang halus. Semakin lama mereka bergaul dan saling mengenal, bertambah suka pula Bagus Sriman akan pribadi kakak seperguruannya itu. 

2.2. Pada suatu siang, ketika mereka berdua sedang mencuci pakaian di sungai, Bagus Sriman menanyakan mengenai dasar-dasar peri-kehidupan duniawi pada Hemban Sawung.

Demikian katanya: “Kakang, apakah gunanya tata krama atau tata pergaulan itu?” 

2.3. Maka jawab Hemban Sawung: “Adi, Bagus Sriman, dalam hidup, seseorang memiliki hak dan terlebih lagi, tanggung jawab. Ia memiliki sesama anggota masyarakat yang lebih muda, lebih tua dan yang sebaya. Karena itulah ia diharapkan untuk hidup bergaul menurut tata krama yang berlaku.

Tata krama sendiri adalah ciptaan manusia yang lahir dan hidup bersama dalam masyarakat; karena itu tata krama adalah: alat pengikat manusia dan tanda keanggotaannya di dalam masyarakat tersebut”.

2.4. “Janganlah beranggapan bahwa bentuk tata krama itu akan tetap sama sepanjang waktu. Jaman beralih jaman, dunia terus berputar seperti roda cakra dan nilai-nilai baru terus-menerus dilahirkan, maka tata kramapun berubah serta berkembang, dan seseorang berhak memperbaruhinya, tetapi apabila tidak diterima masyarakat janganlah memaksakan perubahan”.

2.5. “Selain itu tata krama juga berbeda-beda dan daerah ke daerah, dari negara ke negara. Lain masyarakat lain pula aturan pergaulannya, karenanya pandai-pandailah kita membawa diri. Seperti kata pepatah melayu ‘Lain padang lain belalang”.

Akhir kata turutilah tata krama agar jangan orang tersinggung karena celaan orang”.

6. “Maka kunci dari pada tatakrama itu adalah sopan santun, tahu diri dan sikap rendah-hati. Dalam arti kata lain adalah sikap ‘Tepasalira lan tenggang rasa’ atau pandangan bahwa kita memperlakukan orang seperti kita ingin orang memperlakukan kita dan bahwa kita selalu menghormati perasaan orang”.

7. “Merasa puas dengan penjelasan itu, Bagus Sriman bertanya lagi: ‘Kakang Hemban Sawung di negeri ini banyak orang takut untuk melanggar pantangan-pantangan yang diwarisi.

Baik atau burukkah itu ?“

8. Demikianlah jawab Cantrik Hemban Sawung:

“Adi, pantangan-pantangan itu adalah hasil dari pada terbentuknya tata krama sendiri, berdasarkan pengalaman-pengalaman leluhur kita. Terserah akan dipatuhi atau tidak, yang penting adalah apabila mematuhi pantangan itu mendatangkan rasa bahagia. Apabila tidak ya janganlah dituruti.”

9.“Tapi dengarlah Adi, sebuah ajaran yang bagus; yang dikenal dengan nama ‘malima’ atau ‘pantangan’, yang baik untuk direnungkan secara mendalam. Pantangan yang pertama adalah ‘madat’, yang patut dijauhi karena dapat mengikat seseorang pada kenikmatan suatu benda; akan tetapi sebenarnya tidak menyehatkan tubuh dan dapat melemahkan jiwa.”

10.”Pantangan yang kedua adalah ‘madon’ atau bemain wanita, yang dapat menjerumuskan seseorang pada kejatuhan martabat.

Hilang rasa tanggung jawabnya, dan terjajah pribadinya oleh nafsu.

Ketiga adalah ‘main’ atau ‘berjudi’. Hilang sifat hemat orang yang gemar berjudi, dihamburnya harta tanpa tujuan dan lupa ia pada keluarga, tanggungj awab dan tujuan hidupnya.”

11. “Ke empat adalah ‘minum’ atau kegemaran bermabuk-mabukan. Jauhilah itu, sebab banyak minum membuat orang lupa diri dan menjadi bahan tertawaan masyarakat.

Ke lima adalah ‘maling’ atau perbuatan mencuri. Kasihan seorang pencuri karena ia dimusuhi negara dan hukum, serta masyarakat mencela namanya dan akan merasa malulah keluarganya”.

12. Bagus Sriman mendengarkan seluruh ucapan Hemban Sawung dengan penuh perhatian, sambil mencernakannya dalam benaknya. Suara arus sungai dan keindahan alam pada siang itu menggugah hati sipelajar, untuk mempertajam perasaannya dalam mengusahakan melihat kebenaran-kebenaran yang tersirat dalam kata-kata kawannya itu.

[Back]

 

 

KYAI PACINGTAWA — BAGlAN III

 

1. Di hening senja terasa angin dingin berhembus menyegarkan tubuh yang lelah dan jiwa yang lesu. Tetumbuhan dan dedaunan pohon nampak bagai panji-panji pasukan bhayangkara, berkibar lembut.

Suara merdu gamelan terdengar sayup-sayup sampai bangsal ‘Dirgahayu Budaya’ mengantarkan sukma manusia ke dunia kahyangan. Bayang bayang hitam tergugah di sana-sini oleh karena sinar perak rembulan. Sesungguhnya keindahan itu adalah menuju kebenaran.

2. Bagus Sriman melangkah perlahan menuju ke pendapa, untuk menemui Kyai Pacingtawa yang dilihatnya duduk merenung di sana. Sewaktu menaiki tangga dilihatnya wajah tua Ki guru tersenyum, dikelilingi sinar temaram dian kecil. Diucapkannya salam, lalu ia duduk menghadapi Sang Kyai. Keduanya merenung nenatap malam, seakan-akan dahaga ingin mereguk pemandangan jelita di hadapan mata mereka. 

3. Suara Kyai Pacingtawa terdengar memecah keheningan: “Nak Bagus, dapatkah engkau melihat, bahwa sewaktu manusia dibuat oleh sesuatu yang indah sesungguhnya ingin lari dari kehidupan yang sia-sia? Ya, bahwa hidup adalah kesia-siaan yang tak terhindarkan; yang mendatanglan penderitaan dan penderitaan itu tak terluputkan oleh seluruh manusia, dimana air mata merupakan bagiannya.

4. Dengan penuh rasa heran dan ketidak mengertian Bagus Sriman pun bertanya: “Kyai, mengapakah hidup merupakan satu penderitaan, dan apakah yang dimaksud sebagai penderitaan itu?”

5. Kyai Pacingtawa tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, lalu iapun meneruskan ucapannya:

“Sewaktu manusia lahir, ia menangis meminta perhatian orang tuanya. Kehadirannya di dunia menambah beban dan kesusahan bagi orang tuanya. Sewaktu telah dewasa iapun mendapat beban dan tanggung jawab, di samping didorong oleh keinginan keakuannya untuk memuaskan hati dengan memburu waktu dan kesempatan.”

6. “Setiap hari dijumpainya keinginan diri sendiri yang harus terpuaskan. Ia ditantang dan menantang; memberi dan meminta; dituntut dan menuntut; hingga tak pernah ada kepuasan hati itu. Sungguh benarlah yang dikatakan pepatah jawa ‘wong urip iku susah bungah, bingung piya-piye’ atau ‘orang hidup itu sudah-senang, selalu diliputi rasa bingung’. Artinya, nak, sewaktu belum memiliki sesuatu orang merasa susah, tetapi setelah memilikinya rasa senangnya berlangsung sebentar untuk kemudian hilang lagi karena kini diinginkannya yang lebih.”

7. Lalu kata Bagus Sriman: “Memang benar paman Kyai akan tetapi hidup itu sendiri adalah suatu anugerah Gusti yang harus dijalani, dengan seluruh akibatnya, baik maupun buruk.

Karena itulah manusiapun bersedia menjalani senang maupun susahnya hidup. Tanpa kesadaran ini manusia lalu menjadi malas dan melupakan hak maupun kewajibannya.

8. Kyai Pacingtawa pun menjawab: “Benarlah sesungguhnya hidup itu merupakan suatu anugerah, yang gampang apabila dianggap gampang, dan susah bila dianggap susah. Seperti terungkapkan dalam kata-kata ‘wong urip ora gampang; diarani gampang ya gampang, diarani susah ya susah!’ Adapun hidup yang sejati adalah hidup yang di renungkan secara mendalam. Karena di dalam hidup yang dicari adalah kebaikan sejati, dan letak kebaikan sejati itu adalah pada kebahagiaan rasa dan kebenaran. Maka hidup yang berdasarkan nafsu ‘menang dewe, benere dewe, butuhe dewe’ tidaklah akan membawa orang kepada kebaikan sejati.”

9. “Kebahagiaan yang datang dari kepuasan diri belaka adalah kebahagiaan yang semu. Lihatlah hatinmu, lain jawab secara jujur apabila engkau merasa bahagia karena berhasil menjadi kaya dan mempunyai nama. Ketahuilah bahwa benarlah kata-kata ‘nyawa gaduan, banda sampiran’; Semua yang engkau miliki itu hanyalah titipan dari Tuhan bagimu.”

10. “Periksalah batinmu, dan beritahukan apabila engkau bahagia karena berhasil menolong sesamamu. Apakah engkau menolong sesamamu hanya karena ia sesamamu, ataukah engkau karena ingin mendapat pujian semata atau mengharapkan balas jasa? Milikilah sikap ‘ambeg paramerta’ atau kesediaan untuk menolong dan memberikan yang menjadi kepunyaannya, bagi siapa saja yang membutuhkan”

11. “Dengarlah ajaran Begawan Yogiswara kepada Prabu Dasarata ‘Hidup itu disamping menyembah dan bertakwa kepada Tuhan, harus memiliki tiga hal, yaitu harta/kekayaan, wirya/martabat dan triwinasis/pengetahuan. Tanpa harta, wirya dan triwinasis manusia akan menjadi miskin dan kere gelandangan (papa hariman geIandangan). Demikian nak, ketiga syarat hidup itu harus dimiliki, agar engkau dapat manjadi sesamamu tanpa pamrih. Karena pada hakekatnya mengasihi sesamamu adalah bertakwa kepada yang Maha Kuasa.”

12. “Adalah pula dua buah ungkapan yang merupakan pendukung bagi nasehat Begawan Yogiswara itu. Pertama adalah ‘Ngunduh wohing pakarti’, artinya bahwa senang-susah maupun baik-buruk adalah hasil perbuatan kita juga.

Kedua adalah filsafat ‘Lemah teles’ (tanah-basah) artinya masyarakat adalah tanah yang subur, dan apabila kita tanami akan menyebabkan tanaman itu tumbuh dan berbuah.

Janganlah tebarkan bibit penderitaan, tapi tebarkanlah bibit kebaikan."

13. Setelah terdiam sejenak, Kyai Pacingtawa melanjutkan: “Selain dan pada itu benar pula kata-katamu tadi bahwa dalam hidup ada hak dan kewajiban. Tapi bagi mereka yang belum mengenal batinnya, susah untuk membedakan antara keduanya, seringkali orang lebih mengutamakan hak dari pada kewajiban.”

14. “Apabila semua orang mementingkan hak dari pada kewajiban, terjadilah seperti yang dikatakan dalam pangkur dan serat wedhatama, yaitu: ‘Susumah sesongaran yen mangkono kena ingaran katungkul, karem ing reh kapra wiran artinya: ‘menyombongkan, memamerkan kelebihannya, tergila-gila akan keberaniannya’.

Demikianlah semua merasa mampu, semua perlu berada diatas. Berubahlah nilai hidup: karena merasa memiliki hak, yang sama dengan cinta diri sendiri.”

15. “Akan terjadilah kemudian, kematian yang paling mengerikan, yaitu matinya rasa perikemanusiaan. Sesuai dengan kata-kata Sri Kresna pada Arjuna:

‘Mati yang paling hina adalah apabila Ksatria mati adilnya, prajurit mati keberaniannya, pandita mati kejujurannya dan wanita mati rasa malunya’.

Oleh karena itu hiduplah, hak, dan kuasai batinmu.”  

16. Ingin mengetahui lebih dalam, Bagus Sriman pun bertanya: “Kyai yang terhormat,, apakab batin manusia itu dan bagaimanakah menguasainya?” Kyai Pacingtowo menjawab: “Ketahuilah, bahwa batin adalah sukma, yaitu yang dapat dijelaskan sebagai ‘ingsun’ atau ‘aku’ dari manusia. Dialah yang menjadi medan pertempuran antara hati nurani dan nafsu. Hati nurani dapat diandaikan sebagai corong suara Sang Gusti, sedangkan nafsu adalah badan yang berbicara melalui otak dan panca indera manusia. Menguasai batin sesungguhnya berarti mengikuti akal budi, yang merupakan hasil dari pada pertentangan antara hati nurani dan nafsu.”

17. “Para pandita di jaman dahulu kala mengajar manusia untuk mengurangi makan dan tidur, atau ‘cegah dahar lawan guling’ serta merenungkan keadaan batinnya. 

Demikianlah yang diajarkan oleh Pangeran Mangkunegara IV dalam surat Wedhatama:

‘Hamung nyenyuda hardaning kalbu, pambukane tata-titi ngati-ngati, atetep telaten atul, tuladan marang waspaos’

Artinya,

‘Hanya dengan mengurangi keangkaraan hati, dimulai dengan teratur, cermat, berhati-hati, tekun, rajin dan tidak mudah tergoda, itulah sifat arif bijaksana’

Dan lagi,

‘Tata-titi, ngati-ngati, atetep telaten atul, sareh santa kareng laku, kalakone saka heneng, hening, heling lan hawas’

Artinya,

‘Teratur, cermat, hati-hati, tekun, rajin tidak mudah tergoda, semua tindak-tanduk harus sabar, sareh, saleh, terang jernih, syahdu, sadar, ingat dan waspada.’

maka dengan ketekunan dan kesabaran akan tercapailah yang dicita-citakan, yaitu menemukan diri seperti diungkapkan dalam kata-kata:

‘Lamun yitna kayitnan kang mitayani. Tarlen mung pribadinipun kang katon tinonton rono.’

Artinya,

‘Asal tetap waspada dan berada dalam ketenangan yang sempurna, maka yang tampak hanyalah dirinya sendiri’

Demikianlah nak, carilah dirimu, maka engkau akan menemukan rahasia alam semesta. 

18. Sementara Bagus Sriman cermat mendengarkan ajaran Kyai Pacingtawa, malampun makin bertambah larut. Terdengar bunyi kentongan ditalu sebelas kali. Maka guru dan muridnya, dua orang yang mencari kebenaran itu, lalu saling mengucapkan selamat malam untuk kemudian pergi ketempat istirahat masing-masing, sewaktu dipembaringan masih terngiang-ngiang di telinga Bagus Sriman kata-kata gurunya tadi, mengantarnya lembut ke dunia mimpi.

[Back]

 

 

NYI RATU SEKAR — BAGIAN IV

 

1. Pagi hari datang diiringi suara kokok ayam di desa, surya belum lagi mengangkasa untuk mengusir suasana gelap. Kelelawar-kelelawar hitam beterbangan pulang kearah pohon-pohon rindang di pinggir jurang, sementara cicit burung mulai menyemarakkan suasana.

Terdengar suara kentongan berulang-ulang, membangunkan mereka yang tidur, agar bersiap menghadapi hari baru. Tak lama kemudian telihat para cantrik dan warga padepokan lainnya, berkelompok-kelompok, menuju pancuran untuk mandi menyegarkan diri.

2. Seusai mandi berkumpullah mereka semua di Sasana Agung Gitabhuwana bersama beberapa penduduk Karang Tumaritis. Semua bersiap sedia memanjatkan doa kepada Hyang Maha Luhur, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sebagian bersila merenung, tetapi ada pula yang bertutur dan berdiri. Semua dengan hormat menundukkan kepala menghadap ke Timur. Angin segar menghembus masuk melalui bagian-bagian gedung yang tak berjendela.

Nampak Bagus Sriman bersila di bagian belakang, kedua tangannya membentuk sembah. Tiba-tiba matanya melirik kekanan mencuri pandang kearah Gayatri yang sedang berlutut dengan mata tertutup. Bagus Sriman mendesah lembut melihat gadis itu, kemudian kembali menatap ke depan memandang punggung para guru agung, yang akan memimpin persembahyangan.

3. Setelah keadaan benar-benar hening dan tenang, terdengar suara berwibawa milik Panembahan Anyakrawati mengucap dengan hikmat,

“Pada mulanya adalah Hyang Tunggal, yang menciptakan alam semesta dan manusia lalu memancarkan dari keagungan-Nya Karma, Darma dan Pangastuti.

Oleh Karmalah semua perbuatan manusia dapat ganjaran-Nya yang adil.

Melalui Darmalah manusia menuju kepada kebahagiaan rasa dan kebenaran.

Dengan Pangastuti manusia mengabdi memaju hayuning bhuwana, sepi ing pamrih, rame ing gawe.”

4. Lalu semua yang bekumpul di sasana Agung bersama-sama mengucapkan nama-nama Tuhan yang suci :

“Gusti sangkan paraning dumadi

Gusti Sang Hyang widi Wasa

Gusti Sang Hyang Jagadnata

Gusti Hyang Wenang  . . . . Asmarasanta . . . . Asihprana

Pangeran Ingkang Maha Agung . . . . Maha Rahim . . . . Maha Adil . . . . Maha `           Wasesa . . . . Maha Langgeng

Gusti Sing Tan Kena Kinaya ngapa Katresnaning Sukma manungsa.”

 

5. Setelah beberapa saat berlalu dengan penuh kesenyapan, Bagus Sriman mendengar suara lembut Gayatri membacakan syair “Tumedakipun Hyang Gusti’; yang berbunyi demikian:

“Saestu binerkahan nusa punika kaliyan kanugrahan karaharjaning kraton Swarga ingkang kebak kalubering tresna amargi Gusti ingkang Maha suci sampun tumedak

bade manggihi putra-putranipun lan maringi prajanjian suci

Kamulyaanipun maringi pepadang siti pariden lan aliran tenang puluhan sungai

Kebingahan ingkang sumarak ngebaki tanah pusaka.

Donya lan saisinipun sami ngidung lan sami sujud dateng Allah Sang Rama ingkang langgeng

Rungookna O Nusantara

Gusti iku Allah Kita, Gusti iku Mahasuci!”

 

6. Terpesona Bagus Sriman mendengarkan pembacaan syair itu. Suara lembut Gayatri terasa menenuhi relung hatinya dengan kenikmatan yang indah sangat. Lalu lekas dikuasainya perasaan hati, dan bersama dengan semua yang hadir mengucapkan prasetya Padepokan Pamong Bhuwana:

“Kawula bade sujud bakti marang Gusti Kawula bade sujud bakti marang sesami”

Lalu bangkitlah Bagus Sriman bersama para cantrik yang lain, dan dipimpin oleh Hemban Sawung menuju keladang sayur untuk bekerja.

7. Mencangkok, menanam dan menggemburkan tanah Bagus Sriman dan kawan-kawannya bekerja. Pisau, pacul dan sabit di tangan membantu mereka menjalankan tugas.

Sayur-sayur yang matangpun dipetik dan dikumpulkan di keranjang-keranjang yang telah di sediakan; serta bibit-bibit baru ditanam tanah yang telah diolah dan diberi pupuk.

Di atas, Sang Surya Aditya bersinar gemilang menyehatkan semua yang bekerja di ladang. Lalu pada tengah hari semua beristirahat untuk makan siang, sebelum kembali. meneruskan yang belum diselesaikan.

8. Sewaktu matahari telah agak condong ke arah barat, Bagus Sriman melihat Gayatri berjalan di pendakian menuju rumahnya. Terlihat ia susah payah membawa sebuah keranjang berisikan beberapa butir buah nangka muda.

Segera Bagus Sriman berlari mengejarnya dan menawarkan diri untuk membawakan bebannya itu. Hatinya merasa senang ketika gadis itu menyerahkan keranjangnya untuk dibawakan;

Lalu mereka berjalan bersama, sambil Bagus Sriman berfikir keras mencari upaya untuk memulai percakapan dengan Gayatri.

9. Belum lagi ia sempat mengutarakan apa-apa yang berarti, telah tiba mereka di halaman rumah Gayatri. Dilihatnya Nyi Ratu Mas Sekar sedang duduk makan sirih di pendapa muka. Segera Gayatri mengambil keranjang buah nangkanya seraya mengucapkan terima kasih, sementara Ibundanya menyuruh Bagus Sriman duduk.

Mulailah mereka beramah-tamah membicarakan berbagai-bagai hal yang ringan.

Berkembang hati Bagus Sriman melihat Gayatri keluar membawa wedang teh dan panganan kecil; akan tetapi kegembiraannya menyusut ketika gadis itu kembali ke dalam.

Sedikit merasa terpaksa ia, harus berhadapan dengan ibunya.

10. Percakapan pada sore itu, akhirnya beralih menjadi pengajaran oleh Nyi Ratu Mas Sekar. Mulanya ialah ketika ibu itu mengatakan bahwa kebenaran yang telah diajarkan turun-temurun di tanah Jawa berlaku dari masa ke masa, walaupun pada jaman kini pengutaraannya menggunakan hahasa dan cara yang berbeda. Demikianlah kata Nyi Ratu:

11. “Banyak orang menyangka bahwa pengetahuan yang baru dan berasal dari seberang lautan lebih sesuai untuk menghadapi perubahan jaman, hingga meninggalkan warisan leluhurnya. Memang perlu orang mempelajari hal-hal baru, tetapi meninggalkan ajaran orang tua sama halnya dengan memotong akar dari pohonnya, yang akan mematikan pohon. Nak Bagus, akar itu adalah kepribadian bangsa. Apabila engkau melepaskan kepribadianmu maka engkau akan menjadi orang asing di tanahmu sendiri.” 

12.a. Setelah memberi waktu bagi Bagus Sriman untuk mencernakan apa yang baru dikatakannya, Nyi Ratu Mas Sekar lalu melanjutkan: “Hal ini terkandung dalam pepatah Jawa yang mengatakan ‘aja lali jawane, elok jawane den emohi’. Adapun orang di tanah ini pada dasarnya mempunyai sikap-sikap tertentu, yaitu ingin dekat dengan Tuhan, sehingga mementingkan masalah rohani selain ilmu kebendaan. Karenanya mereka mengutamakan unsur jiwa rasa; seperti yang dikatakan dalam pepatah ‘wong jawa nggone rasa, pada gulangening kalbu, ing sasmita amrih lantip, kuwawa nahan hawa, kinemat kamoting driya’. Selain itu mereka juga memelihara seni budaya seperti pewayangan, ilmu keris, seni bangunan perlambang, gamelan dan karawitan serta kesusastraan. Demikianlah nak, kekayaan naluri budaya penduduk jawa dwipa.”

12.b. “Tapi ibu, orang jawa juga orang yang terikat oleh takhyul dan bermacam-macam kepercayaan yang bodoh. Karenanya bagaimana dapat mereka maju tanpa membuang yang lama dan menggantinya dengan yang baru?” Demikian Bagus Sriman menyela pembicaraan Nyi Ratu Mas Sekar.

13. Ibunda Gayatri tersenyum lalu menjawab celaan anak muda itu: “Nak Bagus, ‘aja dumeh’ (jangan mentang-mentang). Seperti dikatakan dalam pepatah ‘Pinter nanging aja minteri, sugih nanging aja sumugih’, yang artinya adalah jangan menunjukkan kepandaian jangan menunjukkan kekayaan’.

Maksud ibu demikian nak, janganlah engkau merasa bahwa engkau lebih tahu mengenai hal-hal yang membahagiakan orang lain.”

14. “Bagi banyak orang kepercayaan terhadap diri sendiri tidaklah terletak pada pengetahuan akan kemampuan dirinya belaka, tetapi juga pada pengamalan kemampuan mereka menurut tata cara yang telah diwariskan. Oleh karena itu mereka memilih hari-hari baik, memohon restu dari tempat keramat serta memperhatikan sasmita alam sebelum melaksanakan pekerjaan.

Bagi mereka berlakulah pepatah ‘Ora ilok, mengko mundak kuwalat’, yang artinya ‘tidak baik, nanti kena celaka.’ Makna dan pada pepatah itu adalah supaya seseorang dalam bekerja jangan sampai melanggar pantangan atau menodai petuah orang tua. Pada dasarnya nak, masalahnya tidak terletak pada takhayul itu tadi tapi pada pengalaman hidup yang berbeda-bada. Yang terpenting janganlah sampai engkau memaksakan pendapatmu pada orang lain.”

15. Kagum Bagus Sriman mendengar uraian Nyi Ratu Mas Sekar. Tanpa disangkanya seorang wanita sederhana dapat memadamkan kebanggaannya pada kepandaian diri sendiri.

Maka katanya: “Ibu, terimakasih karena kata-kata ibu telah membuka penglihatan ananda. Ajarlah murid ini lebih lagi dengan kebijaksanaanmu.”

16. Berkatalah Nyi Ratu Mas Sekar: “Nak, kepandaian yang utama tidaklah terletak pada pribadi yang mengajar, karena guru yang terpandai pengalaman hidupmu sendiri.

Ki Guru Raden Mas Sosrokartono pernah mengatakan ‘murid gurune pribadi; amulangake sengsarane sesami, ganjarane ayu lan arume sesami. Makna dari ucapan itu adalah bahwa engkaulah guru, engkaulah murid. Dan engkau mencari ilmu pengetahuan karena engkau ingin mempelajari penderitaan sesamamu; sedangkan kepuasan dari pengetahuan terletak pada kebahagiaan sesamamu. Adapun intisari dari pada itu semua ialah prasetya ‘Sujud bekti marang sesami’ yang kita ucapkan bersama setiap pagi di sasana Agung Gita bhuwana.”

17:”Dapat dijelaskan pula bahwa ‘Sujud bekti marang sesami’ diterjemahkan sebagai menghormati sesamamu manusia. Ajaran ini dapat diterangkan dengan kata-kata:

            ‘Jika ingin selamat hormatilah ibu,

            Jika ingin mulia hormatilah ayah,

            Jika ingin pandai hormatilah guru,

Jika ingin jaya hormatilah persahabatan kawan,

Jika ingin bahagia hormati dan bantulah mereka yang membutuhkan pertolongan

Sesungguhnya itulah jalan kebenaran dan jalan kebenaran itulah hidup. Janganlah pertolongan dihargai dengan uang ‘tetulung aja dikertaaji’ karena pertolongan dari dan bagi sesama adalah sesuatu yang indah dan luhur, yang mengikat dua jiwa manusia.”

 

18. Lalu berkatalah Bagus Sriman: Ibu Ratu Mas Sekar, berbicaralah sekarang tentang dua jiwa manusia dalam hubungan asmara maupun persahabatan. ”Tersenyum Nyi Ratu mendengarkan permintaan anak muda itu. Sebelum berbicara sekejap ia menengok ke dalam. Lalu katanya: “Hubungan asmara sesungguhnya adalah persahabatan yang luhur, asalkan terkandung didalamnya tidak hanya gairah birahi, tetapi juga kasih dan kesatuan rasa. Hubungan ini dapat menjadi langgeng seperti hubungan ‘mimi lan mintuna’, yaitu kemana pun selalu bersama, tidak terpisah dan tidak terceraikan.”

19. “Dalam pewayangan contohnya adalah Dewi Drupadi yang setia suami dan adik-adik iparnya selama Pandawa dibuang ke hutan, dan juga Dewi Srikandi yang bahkan mengikuti suaminya kemedan Baratayudha. Maka apabila mencari pasangan hidup, upayakanlah wanita yang ‘suci ati, suci rupi lan suci uni’, yaitu yang bukan hanya cantik wajah tetapi cantik hatinya; yang di kala senang akan menyertai dan di kala susah akan mendampingi. Dan persembahkanlah kepadanya sepenuh jiwa ragamu, bukan kekayaan atau martabat belaka. Karena benarlah ucapan Ki Ranggawarsita yang mengatakan ‘Wadon nir wadonira, karana kaprabaweng salakarukmi’, yaitu ‘Wanita hilang kewanitaannya karena emas dan perak’.

Sesungguhnya kasih dan perhatianmu akan lebih dihargainya dari pada kereta kencana dan mahkota permata.”

20. “Apabila tidak sampai tujuanmu, yaitu apabila kekasih meninggalkan engkau atau sahabat melepaskan kesetiaan, janganlah putus asa. Marahlah tapi jangan memelihara dendam – ngono ya ngono, nanging aja ngono —, apalagi mengharapkan ia celaka.

Karena apabila tertimpa bencana karena perbuatannya, engkau pula yang akan merasa sedih. Hal ini sesuai dengan pepatah Jawa ‘tega larane, ora tega patine’, Sadarlah, ‘Jagad ora mung segodong kelor’, dunia ini luas nak. Akanlah engkau dapatkan pengganti bagi dia yang telah hilang.” 

21. “Menghadapi kejadian semacam itu, ‘aja lali marang asalmu’, yaitu Tuhan, sumber segala peristiwa di dunia manusia. Bersikaplah ‘pasrah, sumarah lan narima’, dengan menganggap bahwa yang dicita-citakan hati ‘durung diparengake Gusti’ (belum diijinkan Tuhan). Serahkanlah isi hatimu kepada Dia yang mengatur alam semesta. Katakanlah dalam hatimu “Nyuwun sekar melati ingkang mekar hing punjering ati’ dan jelajahilah dunia dengan pikiran terbuka. Maka sekar melati itu, atau kasih sejati akan semerbak mekar dilubuk hatimu. Lalu pada akhirnya engkau akan temukan jodohmu yang sebenarnya. Demikianlah nak.”

22. Sementara Bagus Sriman mendengarkan petuah Nyi Ratu Mas Sekar, haripun telah semakin sore. Maka iapun memohon diri untuk pergi mandi di pancuran, sebelum turut belajar menabuh gamelan, yang diadakan setiap sore di bangsal “Dirgayu Budaya”. Setelah senja itu Bagus Sriman berhasil menjalin persahabatan yang erat dengan Gayatri, dan di kemudian hari, setelah meningalkan Padepokan Pamong Bhuwana, nasihat-nasihat Nyi Ratu Mas Sekar senantiasa diingatnya. 

[Back]

 

 

KI SONTOYUDO -- BAGIAN V

 

1. Selang tujuh hari setelah Bagus Sriman tiba di Padepokan Pamong Bhuwana, semakin terasa menyata dirinya dengan kehidupan di perguruan itu. Bekerja di kebun ia lakukan dengan giat; belajar kesusastraan ia turuti pula, bahkan juga berlatih gamelan dan mendengarkan cerita wayang. Akan tetapi dari semua itu menjadi kesukaannyalah untuk mendengar uraian para guru padepokan atau apabila mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengan mereka secara pribadi.

2. Pada pagi hari kedelapan setelah Bagus Sriman tiba di desa Karangtumaritis, mendapatlah ia kesempatan untuk mendengarkan uraian Ki Santayuda. Diselenggarakan pada sore hari, setelah para cantrik menyelesaikan pekerjaan harian mereka. Berbondong-bondong mereka memasuki pendapa agung, setelah sebelumnya membesihkan diri di sendang di bawah semak-semak bambu. Tampak di pendapa Ki Santayuda telah menunggu, sambil bersenda gurau dengan para cantrik yang lebih dahulu tiba.

Bagus Sriman lalu mengambil tempatnya, dan bersila menyandarkan tubuhnya pada tembok bangunan itu. Setelah semua berkumpul dan duduk tenang, mulailah Ki Santayuda berkata-kata.

“Pada pagi hari ini marilah diadakan uraian dan ulasan mengenai dharma karya, yaitu bagian ketiga dari Trinugraha; yang kita kenal dengan narna ‘dharma’.

Adapun karya diartikan sebagai pekerjaan atau upaya, sedangkan dharma adalah segala bentuk pekerjaan yang menuju pada kebenaran. Maka pada hakekatnya dharma karya adalah sama dengan satyagraha, sebuah kata yang diperkenalkan oleh Sri Mahatma di Jambudwipa.”

4.“Adapun dharma karya itu berhubungan erat dengan karma, atau hukum sebab-akibat.

Karma dan bekerjanya karma diterangkan oleh pepatah ‘sapa nggawe nganggo, sopo nandur ngunduh’ atau ‘siapa yang menabur perbuatan, akan menuai hasilnya kemudian’. Karma adalah bagian daripada alam, yang diletakkan Hyang Maha Kuasa untuk memelihara ciptaan-Nya.

Kepada manusia diberikan hati nurani dan akal budi, untuk menyadari akan hal itu.”

5. “Hubungan antara karma dan dharma, yang diwarnai oleh pangastuti, ialah bagi kita manusia untuk berkarya menggerakkan karma; agar secara berangsur-angsur beruntunan dharma yang diupayakan membawa seluruh alam semesta kepada kebahagiaan yang sejati. Maka ini sesuai dengan cita-cita ksatria, yaitu ‘mahayu-hayuning bawana’ atau mengusahakan kebahagiaan dunia dan umat manusia”. 

6. “Apabila seseorang berbuat kebajikan menolong sesamanya tanpa mengharapkan balas jasa; dan kemudian yang ditolong itu berbuat yang sama kepada sesamanya yang lain, akan terlihatlah roda dharma berputar menarik karma dan memperbesar akibat dari perbuatan bajik yang telah dimulai. Itu lah karya pangastuti yang terkandung dalam kata-kata ‘sepi ing pamrih, rame ing nggawe’. Akan tetapi demikianlah pula sebaliknya, roda dharma dapat terhenti oleh perbuatan buruk, yang datang dari pamrih pribadi manusia.”

7. “Karena itu, para siswa berbuatlah kebajikan terus-menerus; bukan karena ingin mendapatkan surga, bukan karena takut api neraka, akan tetapi karena ingin membahagiakan dunia.”

8. “Adapun kunci daripada kata-kata ‘rame ing gawe, sepi ing pamnih’ adalah tertetak pada nilai pekerjaan sendiri, sedangkan setiap pekerjaan memiliki nilai pula. Suatu pekerjaan ataupun perbuatan baik pada dasarnya bernilai sangat tinggi, karena merupakan pengejawantahan daripada ‘pangastuti’. Oleh sebab itu berkaryalah demi karya semata, dan berkaryalah tanpa henti. Seperti yang dianjurkan dalam pepatah ‘aja leren lamun durung sayah, aja mangan lamun durung luwe’, yang berarti jangan berhenti bekerja bila belum lelah, jangan makan bila belum lapar. Itulah karya yang utama”

9. “Perhatikan bahwa orang semestinya berkarya bukan demi hal ataupun kepuasan pribadi semata. Selain itu karya seseorang tidak perlu dinilai berdasarkan karya orang lain, karena setiap karya memiliki nilainya sendiri-sendiri. Pepatah mengatakan ‘sira bisa niru panggaweane, nanging ora bisa niru rejekine’, yang berarti bahwa engkau dapat meniru pekerjaan orang, tetapi tidak depat meniru hasilnya. Maka janganlah rendah diri atau putus asa apabila melihat pekerjaan orang lain lebih berhasil, melainkan usahakanlah terus untuk bertanding karya.”

10.”Siapapun, di manapun dan pekerjaan apapun yang ia jadikan jalan mengabdi perbuatlah itu. ‘Kang dagang neng lautan, miwah kang among tani, sumawana kang suwita ing narendra’, yaitu yang berniaga, mengabdi raja, bertani, mempunyai satu tujuan walaupun berbeda-beda jenis pekerjaannya.’

‘mawarna-warna nanging siji’ adalah ungkapan yang dapat menjelaskan makna itu."

11. “Sebuah pepatah mengatakan pula ‘aja bungah ing pangalem, lan aja susah ing panacad’, yang diterjemahkan sebagai ‘jangan merasa senang kalau dipuji, jangan merasa sedih bila dicela’. Maknanya adalah supaya orang berkarya itu tidak cepat merasa puas dengan hasilnya, akan tetapi sebaiknya mengusahakan hasil yang lebih baik lagi. Karena pada dasarnya buah-buah dari pada karya itu terletak di dalam menjalankannya, di dalam belajar menjalankan secara lebih baik dan di dalam memetik hasilnya. Demikian pula sebaliknya, jangan sadih hati dan putus asa bila menjumpai kegagalan. Anggaplah celaan terhadap ketidak berhasilan sebagai pendorong untuk bekerja secara lebih baik.”

12. “Demikianlah pula, para siswa, janganlah memilih-milih pekerjaan agar mendapat yang mudah. Tidaklah dapat manusia melarikan diri dari kesukaran yang dibenci dalam hidup ini. Karena kemanapun seseorang menyembunyikan dirinya, disitu akan dijumpainya kesukaran itu. Akan tetapi demikian pula sebaliknya, janganlah menghendaki sesuatu pekerjaan yang melebihi kemampuan. Setiap manusia di bumi memiliki kemampuan dan kegunaan yang berbeda, akan tetapi sama pentingnya.

Karena itu carilah pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan keahlian padukanlah ‘cita, rasa lan karsa’ di dalam menjalankannya; maka itulah yang disebut dengan aji Triwikrama.”

13. “Wahai orang yang bekerja perhatikanlah bunyi pepatah ‘aja dumeh lan aja nganggo aji mumpung’ di dalam menjalankan tugas maupun karyamu. Adapun arti dan pepatah itu adalah demikian. Dumeh adalah sikap mentang-mentang, dan karena itu maksudnya adalab agar orang bekerja itu sebaiknya tidak berbangga hati akan bentuk maupun keberhasilan pekerjaannya. Selanjutnya, pekerjaan janganlah digunakan demi kepentingan diri belaka, mengikuti ajaran aji mumpung. Karena apakah artinya kaya harta, apabila jiwa merasa bersalah.”

14. “Sebaiknyalah apabila bekerja berpegang pada petuah-petuah Ki Hajar, yaitu:

‘Ing ngarsa sung tulada

Ing madya mangun karsa

Tut wuri handayani’

Yang artinya,

‘Di depan memberi contoh

Di tengah-tengah turut giat bekerja

Dari belakang mempengaruhi dan mendorong’

Di dalam, kata-kata itulah kita diajarkan budi pekerti yang harus menjiwai pekerjaan 

sehari-hari.”

15. “Dalam mengabdikan diri di dalam pekerjaan dan tugas serta tanggung jawab, berpeganglah pada pusaka Tridharma, yang berbunyi demikian :

‘Rumangsa melu handarbeni

Rumangsa melu hangrungkebi

Mulat sarira hangrasawani’

Yang artinya,

‘Merasa ikut memiliki

Merasa ikut bertanggung jawab

Harus berani mawas diri dan meneruskan apa yang dilakukan’

Bagi mereka yang memiliki hikmat dari kata-kata ini akan jauhlah dari sikap-sikap ‘adigung adiguna’ atau ‘sombong, angkuh dan bangga’. Karena kembali pada yang telah diuraikan tadi, sesungguhnya bekerja itu adalah untuk kebahagiaan bersama.” 

16 “Demikianlah uraianku pagi ini mengenai dharma karya itu. Akhir kita, para siswa, ‘sapa wae ing ing ngendi wae, sumarah pinda baskara’. Engkaulah matahari itu dan perbuatan baikmulah cabayanya. Bersikaplah seperti itu di manapun engkau berada. 

17. Bagus Sriman mendengarkan dengan penuh perhatian ajaran Ki Santayuda dari permulaan hingga akhirnya. Lalu iapun tenggelam dalam pikirannya, sementara cantrik-cantrik lain sibuk bertanya pada sang guru.

Lewat tengah hari mereka semua beristirahat, Sebelum waktu makan siang. Sebagian cantrik tetap duduk di pendapa saling bertukar pikiran; sedang beberapa cantrik, termasuk Bagus Sriman, turun ke halaman, berjalan-jalan sambil bersenda gurau dan melihat-lihat pemandangan alam.

[Back]

 

 

 

KI TANDAYUDA — BAGIAN VI.

 

1.1. Tertulislah dalam catatan perjalanan Bagus Sriman sekumpulan kata-kata ajaran, yang diberikan oleh Ki Tandayuda kepada murid-muridnya mengenai nilai-nilai keksatriaan. Mula dari uraian itu adalah ketika cantrik Bondan Kejawan bertanya mengenai hakekat seorang ksatria.

2. Demikianlah jawab Ki Tandayuda: “Para siswa, seorang ksatria itu pada dasarnya adalah orang yang berbudi luhur. Karena bersikap selalu ingin melindungi; yaitu melindungi negeri, rakyat, masyarakat, pimpinan, kehormatan maupun nama keluarganya. Tetapi sesungguhnya yang terlebih-lebih ingin ia tegakkan adalah kebenaran dan keadilan. Maka tujuan akhir dari seorang ksatria hanyalah ingin membahagiakan dunia, dan karena itu seorang kastria adalah pahlawan bagi umat manusia.”

3. “Lalu betanyalah cantrik Prayatuna: “Bagaimanakah, Ki guru, contoh seorang ksatria itu?”

4. Ki gurupun menguraikan: “Untuk memberikan gambaran yang jelas marilah kita kembali kepada cerita wayang, yang diwariskan oleh leluhur kita. Prabu Rama adalah seorang ksatria dalam mempertahankan Dewi Sinta dan menyerbu Alengka pura untuk memusnahkan Prabu Dasarata, si angkara murka dunia. Resi Bisma juga seorang ksatria karena berani untuk setia kepada sumpah yang ia ucapkan kepada calon ibu tirinya, yaitu sumpah untuk tidak menikah ataupun mengangkat dirinya menjadi Raja Astinapura. Demikian pula Adipati Karna, Sang Suryaputra; harus dianggap sebagai seorang ksatria, walaupun ia berperang di pihak Kurawa yang salah. Patut dijadikan contoh disini adalah ksatriaannya pada raja Suyudana yang telah memberinya jabatan dan kehormatan, walaupun ini berarti ia harus berperang melawan saudara-saudaranya sendiri.” 

5. “Sikap ksatria yang setia ini adalah sesuai dengan syair aksara jawa. Bunyinya demikian:

‘HA     NA      CA       LA       KA

DA       TA       SA       WA      LA

PA       DA       JA        YA       NYA

MA      GA       BA       THA    NGA’

Maknanya:

‘Ada dua orang abdi yang mendapat titah, bersengketa karena keduanya memegang teguh perintah (yang berbeda dan berasal dari Pangeran Aji Saka) sama kuatnya, dan sama-sama menjadi mayat’. 

Demikianlah para siswa, kesatriaan hendaknya menjadi dasar perilaku ksatria.” 

6.  “Adapun contoh-contoh ksatria yang paling sempurna adalah Pandawa Lima. Yudistira yang tertua adalah orang yang sabar. Berwatak samodra hingga dapat menerima watak dan kemauan orang lain ia halus, bicaranya lemah-lembut dan berhati-hati, tidak pernah menyakiti orang lain dan selalu bersedia membagi harta miliknya. Akan tetapi bila kesabarannya dilampaui, jadilah ia ’dewa mambang’ raksasa besar. 

7. “Bima, putra kedua, gagah perkasa dan berwatak serta berhati teguh. Kemauannya keras dan tidak pernah bersedia menerima pendapat orang lain sebelum yakin akan kebenarannya. Walau nampaknya kasar, Bimalah yang dalam lakon Dewa Ruci berhasil menamukan yang menjadi idam-idaman hati; yaitu bertemu dengan Tuhan, yang ternyata bertakhta dalam hatinya sendiri. Karena itu jangan meremehkan orang yang nampaknya saja kasar.” 

8.“Arjuna, penengah Pandawa, adalah ksatria yang berbudi halus, cinta akan keindahan dan senang hidup prihatin melalui bertapa. Dialah yang biasanya melindungi rakyat jelata, dari gangguan perampok atau penjahat. Sikap Arjuna selalu tenang, dan dalam bekerja tidak tergesa-gesa serta selalu diiringi sikap waspada. Karena itu yang dikerjakannya selalu berhasil. Sangat mendalam memakai rasa Arjuna dalam berbuat segala sesuatu; dalam bermain cinta dengan istrinya, dalam mengabdi saudara-saudaranya dan dalam menjalankan kewajibannya sebagai ksatria.

Selain itu ia pula merupakan tokoh yang pandai bergaul.” 

9 “Nakula dan Sadewa, Si kembar, adalah pasangan yang selalu menunjukkan kesetiaan persaudaraan, keserentakan, keserasian dan keseimbangan dalam berpikir. ltulah para siswa, contoh-contoh ksatria dalam pewayangan.” 

10. Lalu bagaimanakah tokoh-tokoh yang tidak bersikap ksatria, Ki guru? “Demikian cantrik Tawawi bertanya. 

11. Jawab Ki Tandayuda: “Memang ada pula, seperti tokoh-tokoh raja sabrangan dan orang Kurawa. Walaupun sakti dan berkuasa mereka tidak dapat mengekang nafsu. Ingin menang tanpa pernah mengalah. Maka kekuasaan di tangan mereka menjadi alat penindas dan perusak. Sikap mereka tidak perwira, perasaan hati selalu diturut, malah tidal takut menangis walaupun laki-laki. Mereka itu angkuh serta gila hormat, derajat dan harta. Seseorang yang ingin menjadi seorang ksatria haruslah membuang sikap-sikap seperti itu.”  

12. “Kalau demikian, ksatria bukan hanya sekedar pahlawan berkeris saja tetapi juga seseorang yang berkepribadian rohani tinggi” Cantrik Sahiri berkata menanggapi. 

13. “Betul katamu, Sahiri, keris ditangan ksatria gadungan menjadi gada ditangan rahwana, yang berarti malapetaka bagi orang banyak.

La yang tidak berpembawaan lemah lembut bagaimana dapat menghargai wanita, anak-anak atau mereka yang lemah. La yang tindak tanduknya tidak sabar dan tenang, mudah kalut jiwa dan pembawaannya.

Apabila mudah terbakar perasaannya, mudah ia menyinggung perasaan orang dan mudah membuat permusuhan. Terlalu cinta diri sendiri membuat orang tidak rela berkurban atau membela yang tertindas. Bukan pula ksatria mereka yang melalaikan tapa dan semedi, karena sulit mereka menilai diri, membangkitkan kekuasan jiwa dan melatih kebijaksanaan.”

14. Bertanyalah Bagus Sriman kepada gurunya, untuk meminta penjelasan mengenai sikap ksatria pada masa kini.

15. Ki Tandayudapun lalu menguraikannya: “Ksatria sejati adalah orang yang berpembawaan sebagai perwira, akan tetapi memiliki ketinggian jiwa bagai seorang pandita. Sebagai pelindung rakyat, keadilan yang merata ditekankannya. Ia mengajukan dan mengikuti pembaharuan, tanpa mengabaikan kemanusiaan ataupun kepribadian budayanya. Hidup rakyatnya adalah hidupnya. Ditenggelamkannya diri ke dalam rakyat, tanpa hanyut ke dalamnya (ngeli tanpa keli).”

16. “Walaupun demikian ia tidak takut melawan arus, karena ia sanggup memelihara kedamaian jiwanya. Celaan dan permusuhan diterimanya dengan tetap berterima kasih kepada Tuhan. Untuknya kebahagiaan tidak terletak atas hormat, semat/harta, derajad/jabatan dan kramat/kuasa.”

17. “Sebagai seorang ksatria sikapnya demikian: 

‘Sepi ing pamrih, rame ing gawe

Banyak bekerja, tanpa pamrih

Sugih tanpa banda

Kaya tanpa harta

Ngluruk tanpa wadya

Perang tanpa tentara

Menang tanpa ngasorake

Menang tanpa menghina

Digjaya tanpa aji

Merasa kuat tanpa kesaktian/dukungan’ 

Hidupnya bergairah dalam mengabdi, tanpa menonjolkan jasa-jasanya”

 

18. ‘Wahai para siswa, tujuan utama seorang ksatria sama mulianya dengan tujuan seorang pandita. Banyak yang mencoba menjadi ksatria utama tetapi menemui kegagalan. Terpujilah mereka yang tidak putus asa dan tetap berani menempuh jalan utama itu. Ingatlah bahwa Arjunapun berkali-kali gagal seperti dalam lakon Palguna palgunadi. Beratnya jalan hidup ksatriaan itu karena tantangan yang pertama-tama harus ditundukkannya ialah diri pribadinya sendiri. 

19. Terbayang dalam pikiran Bagus Sriman, wajah orang ksatria yang telah berhasil memenangkan dirinya sendiri : Tenang, sabar dan berbudi luhur. Lalu tergambar pula dalam angan-angannya susah-payah dan pengorbanan yang harus diberikan sang prajurit, untuk memiliki jiwa keksatriaan tersebut. 

2.1. Kemudian terdengar kembali suara Ki Tandayuda melanjutkan uraiannya: “Wahai para siswa, cernakanlah dalam pikiran dan hati, apa yang disebut sebagai ksatria pinandita serta ciri-cirinya.

2. ‘Ksatria Pinandita itu adalah sikap ksatria dan sikap kepanditaan, seperti yang terdapat dalam pribadi seseorang ia melangkah dalam keutamaan. Orang yang demikian itu berpijak teguh diatas dasar ‘pragnya para marta jaya’; yang artinya adalah ‘dengan kepandaian ilmu pengetahuan dan budi luhur menuju kepada kemenangan. Adapun kemenan