
![]()
043 Wing Kardjo ( 1937 )
01 Macbeth 02 La Nausee 03 Salju 04 Spleen 05 Nyanyian
06 Bayang-bayang 07 L’espoir 08 Potret Senja
***************************************************************************************************************************
Gagak hitam
Terbang dalam kelam
Mestinya pada malam begini buta
Hantu-hantu menyiapkan kerja durjana
Tombak tajam menghujam korban
Melepaskan setan-setan kurungan
Gagak hitam
Dalam malam
Paginya beribu-ribu jiwa
Merasa malapetaka tiba
Beduk dipalu di segenap desa
Derap kuda menderu di mana-mana
Gagak hitam
Terbang dalam kelam
Bukankah lega
Kini sehabis tiada daya
Terbaring lesu memandang dunia biru
Tanpa batas
Bukankah puas
Kini setelah aus
Tiada daya memandangi diri
Tanpa batas
Bukankah badai telah lenyap
Gelombang garang dan kelabu
Yang menguncang-guncang tubuhmu
Bukankah angin-angin telah lenyap
Muak: kau muntahkan segala obsesi
Menguak diri: matahari
Kemanakah pergi
Mencari matahari
Ketika salju turun
Pepohonan kehilangan daun
Kemanakah jalan
Mencari lindungan
Ketika tubuh kuyup
Dan pintu tertutup
Ke manakah lari
Mencari api
Ketika bara hati
Padam tak berarti
Kemanakah pergi
Selain mencuci diri
Lidah-lidah dukana
Menjilati khayal
Semacam sesal, semacam duka
Dalam nyala
Lilin-lilin harap
Terbakar
Melelehkan nanah
Atas kebinasaan
Dua daya luluh meluluhkan tubuh
Hingga lumpuh
Matahari terbaring
Meneteskan peluh
Dari langit-langit mimpi
Atap-atap luka
Junjungan. Aku tahu
Apa yang mesti kucintai, Hidup
Tetapi udara yang mesti kuhirup
Gemetar dan lapar
Tak sampai ikut membusuk. Arti
Cumbuan kuntum dan duri
Nyanyian surgawi, pedih
Dunia terancam dan pergi. Letih
Hanya hatiku. Jalan sampai badai
Nyanyi, walau tahu
Tinggal sunyi melambai
Junjungan. Aku tahu
Apa yang mesti kucintai. Hidup
Biar titik makin sayup
Kota-kota yang kutinggalkan
Macam Paris, Cannes, El Jadida
Fes, Meknes
Madrid atau Roma
Layak surga
Liwat pencucian kesucian
Macam London dan sekian kesepian
Kumasuki neraka
Jakarta, Jokja, Surabaya
Denpasar dan Cianjur
Bandung, semuanya hancur
Masih kutunggu segalanya lebur
Dalam sajak-sajak luntur
Berkubur
Perang bagi yang menang
Memukul genderang
Usungan keranda
Bagai upacara mulia
Perang bagi yang lumpuh
Mendendam musuh
Berkarat mayat
Dengan kutuk hianat
Yang memukul dengan jiwa utuh
Bersenjata ampuh,
Yang rapuh
Dikoyak-koyak, rubuh!
Perang bagi yang menang …
Memukul genderang
Setelah segala mimpi tertidur
Apakah lagi bisa kuulur
Selain tangan lembut tak bernafsu
Menjamah tubuhmu
Hidup dalam hidup
Teratur
Tetapi makin tertutup
Dan kabur
Sehabis segala mimpi tertidur
Apa lagi bisa kuulur
Kecuali umur
Memanjang
Jadi bayang-bayang
Remang …
[Soneta Nusantara] - [Nusantara Sonnets]
Air Minum_C O L D A_ Air Minum
Mineral Drinking Water
Hubungi Customer Service :
Jl. Palmarah Barat No. 353 / Blok B2 Jakarta Selatan
Phone: (62-21) 530 4843, 7062 1108
Pengelola Baktinendra Prawiro, Retno Kintoko
Pengelola Baktinendra Prawiro, Retno Kintoko
Copyright©soneta.org
2004
For problems or questions regarding this web contact
[admin@soneta.org]
Last updated:
09/18/2007